Barometer Warta Indonesia

Latest Post

Persiapan Kualifikasi Olimpiade, Angkat Besi Lakoni Satu Uji Coba

Written By Hidup dengan NILAI lebih on Minggu, 14 Desember 2014 | 17.13

Eko Yuli (detik.com)

Tim angkat besi Indonesia berencana melakukan satu ujicoba di‎ tahun depan. Ujicoba ini dilakukan sebagai persiapan menuju kualifikasi Olimpiade 2016 di Houston, Amerika Serikat.

Pada hasil Kejuaraan Dunia di Kazakhstan yang digelar pada 4-16 November lalu, Eko Yuli Irawan cs berhasil merebut dua medali perak dan dua medali perunggu. Dari hasil itu pula, tim angkat besi juga secara otomatis mendapat tujuh kuota sementara menuju Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.

Tim angkat besi masih harus melakoni satu kualifikasi lagi di Houston pada November 2015. Untuk mendapat hasil yang maksimal, tim merasa memerlukan sebuah ujicoba. 

‎"Kami masih melihat jadwal kalender turnamen internasional tahun depan. Tapi kemungkinan besar kami akan ikut Kejuaraan Asia atau turnamen Open yang digelar di Thailand," ujar manajer tim pelatnas angkat besi, Alamsyah Wijaya, ketika dihubungi detikSport, Rabu (10/12/2014).
Dijelaskan Alamsyah, atlet angkat besi yang saat ini masih terdaftar di Surat Keputusan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima)‎ berjumlah 13 orang. Dan saat ini seluruh lifter masih melakoni latihan menyesuaikan program yang diberikan pelatih. 

"Atlet yang masuk dalam SK Prima masih terus kami maintenance latihannya sesuai program pelatih. Beberapa ada yang latihan di Bekasi, seperti Triyatno masih di Samarinda. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu sekaligus meminta waktu cuti," bebernya.

Menyoal anggaran untuk ujicoba, Alamsyah belum mau berspekulasi. Namun begitu ia mengharapkan ‎tetap ada bantuan dari pemerintah, dalam hal ini diwakilkan Satlak Prima.

"Ujicoba ini untuk melihat perkembangan lifter sampai sejauh mana, di samping untuk mengecoh lawan juga.‎ Karena rencananya kami akan mencoba mengikuti kelas-kelas pertandingan di luar kebiasaan lifter," tambah Alamsyah.

Rencananya ujicoba tersebut akan digelar bulan Juni dan akan diikuti full team. Namun, kata Alamsyah, dirinya masih harus merapatkan hal ini dulu dengan pelatih dan para pengurus angkat besi. 

"Saya inginnya full team, 13-15 orang. Tapi kami harus rapat pleno dulu karena semua ' bergantung pada kebutuhan tim juga. Jika rapat nanti bisa full, kami akan kirim semua. Bahkan kalau bisa 15 orang," ungkapnya.

(http://sport.detik.com/read/2014/12/10/160013/2773490/82/persiapan-kualifikasi-olimpiade-angkat-besi-lakoni-satu-uji-coba?s99220269)

Ini Alasan Rodgers Rotasi Kiper Liverpool

Brendan Rodgers (http://www.telegraph.co.uk/)

Manajer Liverpool, Brendan Rodgers, mengaku melakukan rotasi untuk posisi kiper karena ingin semua pemain mendapat kesempatan berkembang. Menurut Rodgers, ia tak akan berubah pikiran, meski karena kebijakan itu, The Reds kalah 0-3 dari Manchester United, pada pertandingan ke-16 Premier League, di Old Trafford, Minggu (14/12/2014).

Kiper utama MU adalah Simon Mignolet, yang memiliki rekor empat kali clean sheet dalam 15 pertandingan Premier League musim ini. Melawan MU, Rodgers memainkan kiper Brad Jones, yang belum pernah bermain di Premier League musim ini. 

Wayne Rooney, Juan Mata, dan Robin van Persie memaksa Jones memungut bola dari dalam gawang, berturut-turut pada menit ke-12, ke-40, dan ke-71. Semua gol MU merupakan hasil tendangan first time.

"Setelah melawan Basel (Liga Champions), saya merasa bahwa saya harus membuat perubahan. Simon tampil baik. Dia profesional. Saya berbicara dengan dia sebelumnya dan dia menerimanya (kebijakan rotasi)," jelas Rodgers.

"Saya pikir, Brad Jones tidak banyak bekerja hari ini, terlepas (dari tiga tembakan MU yang berujung gol). Perubahan ini untuk waktu yang tidak terbatas.  Saya merasa, Brad tampil sangat baik pada tahun lalu setiap kali saya membutuhkannya. Dia kiper yang memiliki kemampuan. Kami harus menemukan solusi untuk seluruh skuad agar menjadi lebih baik,"sambungnya. 

Dengan kekalahan dari MU, Liverpool tertahan di peringkat kesembilan dengan nilai 21, atau kalah sepuluh angka dari MU di tempat ketiga. Adapun puncak klasemen dihuni Chelsea dengan nilai 39. 

(http://bola.kompas.com/read/2014/12/15/05030028/Ini.Alasan.Rodgers.Rotasi.Kiper.Liverpool.)

Van Gaal Angkat Topi untuk De Gea

Kiper Manchester United, David de Gea. (kompas.com)


Manajer Manchester United, Louis van Gaal, menilai kiper David De Gea berperan besar dalam keberhasilan timnya mengalahkan Liverpool pada pertandingan Premier League, di Old Trafford, Minggu (14/12/2014).

MU memenangi laga itu dengan skor 3-0, berkat gol Wayne Rooney (12), Juan Mata (40), dan Robin van Persie (71). Semua gol MU merupakan hasil tendangan first time.

Hasil akhir mungkin berubah jika De Gea tak menggagalkan peluang-peluang penting Liverpool, anntara lain tembakan Raheem Sterling dari tengah kotak penalti, pada menit ke-51 dan tembakan Mario Balotelli pada menit ke-67.

"Saya bangga karena kami tak kebobolan dan itu berkat reaksi luar biasa dari David de Gea. Kami mencetak gol fantastis dengan satu sentuhan dan saya senang dengan itu," puji Van Gaal. 

Hasil ini merupakan kemenangan keenam bagi MU dari enam pertandingan terakhir. Dengan kemenangan tersebut, MU duduk di peringkat ketiga dengan nilai 31, atau kalah delapan angka dari Chelsea di puncak klasemen. Adapun Liverpool duduk di peringkat kesembilan dengan nilai 21.

"Kami meraih enam kemenangan beruntun. Itu fantastis. Namun, kami masih harus meningkatkan permainan kami. Hanya setelah pertandingan melawan QPR (Queens Park Rangers) dan Hull City, kami bisa mendominasi pertandingan.  Kami harus berusaha meraih kemenangan dengan lebih mudah," beber Van Gaal. 

(http://bola.kompas.com/read/2014/12/15/06010048/Van.Gaal.Angkat.Topi.untuk.De.Gea.)

Kolaborasi Budaya Tari Tradisional Indonesia dan Tari Lintas Budaya

Didik Nini Thowok  (www.vemale.com)


Indonesia yang kaya akan budaya, menjadi salah satu objek menarik yang bisa dikembangkan dalam kebudayaan tersebut.  Salah satunya adalah seni tari, bisa dikembangkan menjadi berbagai macam bentuk model. Pola lantai dan pola gerakan yang berbeda-beda di setiap tarian bisa menjadi suatu kombinasi yang indah bila dipadupadankan dengan tarian yang lain secara harmonis dan serasi.
Tentunya dalam memadupadankan suatu tarian dengan tarian lain, membutuhkan skill dan pengalaman khusus yang tidak bisa digarap dengan sembarangan. Khususnya tari tradisional Indonesia, bila dipadupadankan dengan tarian lain dari negara lain, membutuhkan proses panjang dan teknik penggarapan yang sesuai. Salah seorang penggiat dan penggarap tari kolaborasi, Agung Irawan mengungkapkan, “Setiap budaya bangsa memiliki karakteristik dan identitas sendiri, yang terkadang perbedaannya sangat mencolok. Maka ketika ingin membuat kolaborasi tarian, harus sangat hati-hati dalam komposisi, proporsi, dan kombinasi di dalamnya”, katanya.
Tari kolaborasi yang memang cenderung lebih susah digarap, namun nampaknya memiliki nilai antusiasme yang tinggi di hati pecinta budaya. Banyak penari-penari muda yang bermunculan, dan mereka sangat enjoy dalam membawakan dan mengembangkan tarian kolaborasi. Di tengah-tengah mulai lesunya budaya bangsa, dan pengalaman berharga akan pentingnya pelestarian budaya bangsa, pemuda-pemudi bangsa Indonesia mulai berpikir inovatif untuk mengembangkan dan melestarikan budaya bangsa agar tetap dicintai oleh bangsanya, salah satunya dengan cara mengkombinasikan dengan tarian tradisi bangsa dengan tarian bangsa lain, yang tentunya tidak meninggalkan pakem-pakem yang sudah ada. Agung Irawan sebagai penggiat tari tradisi dan kolaborasi yang masih menyandang status sebagai mahasiswa aktif Sosiologi FISIP UNS kembali berkomentar, “Saya rasa pemuda Indonesia sekarang memang sedang gencar melestarikan budaya, ya salah satu caranya ya dengan melalui penggarapan tari kolaborasi ini”, katanya.
Satu hal yang menjadi daya tarik lagi untuk tari jenis kolaborasi ini adalah, semua jenis tari pada dasarnya bisa dikolaborasikan. Hanya saja, butuh kehati-hatian karena tidak semua gerakan dalam tarian akan menjadi sesuatu yang indah jika dikombinasikan. “ya contohnya saja kalau tarian tradisi Jawa yang cenderung lemah lembut dikombinasikan dengan tarian Arab. Itu sudah jelas sangat berbeda. Tapi itu tetap bisa dikolaborasikan menjadi satu rangkaian tarian jika konsep yang dibangun sudah jelas di awal”, katanya.
Memang diperlukan konsep yang jelas dalam mementuk tari kolaborasi. Salah satu tari kolaborasi yang dinilai memiliki konsep yang jelas menurut Agung Irawan adalah tari kolaborasi yang pernah ditampilkan dalam acara Colaboration of Art ke 34 yang diselenggarakan di UNS dimana konsep yang diusung adalah konsep pewayangan yang mengangkat tokoh Prabu Del Beduwel, di sana tarian kolaborasi disajikan melalui kisah Prabu Del Beduwel yang telah berhasil menjadi raja, dan dengan keinginannya untuk menguasai negara lain, maka ia membuat taktik dengan cara mengundang tamu-tamu dari Turki, India, Jepang, Vietnam dengan modus pertukaran budaya, dan memamerkan tarian mereka masing-masing. “ya contohnya itu tadi, tari kolaborasi yang dibawakan melalui kisah Prabu Del Beduwel dalam Colaboration of Art ke 34, kan konsepnya jelas, berawal dari kisah yang memang tamu yang diundang oleh sang Prabu, karena konsep yang jelas sangat dibutuhkan. Apalagi dalam penampilan itu yang diusung adalah tari-tarian yang sangat berbeda-beda karakteristiknya”, tambahnya.


Link related : http://putripetry.blog.uns.ac.id/collaboration-of-art.php/

Menumbuhkan Kembali Cinta Budaya Nusantara Melalui Kolaborasi

Kolaborasi Korea-Indonesia

Jiwa cinta budaya pada generasi muda kita juga  mulai terkikis seiring merebaknya kebudayaan asing yang masuk kedalam negeri kita dengan teknologi sebagai medium. Sebagai contoh demam “K-Pop” dan virus “weternisasi”. K-Pop sendiri mulai menjamur di Indonesia sejak sekitra tahun 2009 hampir di segala bidang kebudayaan dan kesenian.
Hampir setiap hari generasi muda kita , secara rutin mengkonsumsi segala hal yang berhubungan dengan genre seni budaya asal Korea Selatan tersebut, mulai dari musik atau lagu, cara berpakaian, bahkan gaya bahasa. Hal tersebut merebak tidak lama setelah penetapan 2 Oktober 2009 sebagai hari batik nasional dan warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Generasi muda Indonesia sepatutnya bangga pada warisan budaya nusantara. Tidak hanya dalam bidang fashion, keris dan wayang juga telah menjadi salah satu warisan budaya dunia yang telah diakui. “Saat ini sudah ada tiga warisan budaya khas Indonesia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia yakni batik, keris, dan wayang”, seperti tertulis dalam laman setkab.go.id yang merupakan situs resmi Sekretariat Kabinet, Selasa (2/10/2012).[1]


Ironisnya ketika budaya nusantara mulai diakui dunia, generasi muda yang menjadi ujung tombak bagi kelestariannya justru lebih memilih budaya luar. Anggapan bahwa budaya terkesan kuno, seperti orang tua, tidak uptodate, dan sebagainya menjadi alasan anak muda enggan memakainya. “Secara umum, anak zaman sekarang sukanya yang praktis. Misalnya kalau tari tradisional itu ribet dari segi pakaiannya, musiknya, dan gerakannya. Makanya perlu ada terobosan baru, misalnya tari tradisonal menggunakan yang sedikit modern”, ungkap Diana salah satu mahasiswi UNY asal Kebumen saat dihubungi lewat media social pada Minggu (26/10).
Menciptakan terobosan baru melalui kolaborasi budaya menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan jiwa cinta budaya pada generasi muda. Kolaborasi yang memiliki arti kerjasama, dipadukan dengan arti budaya yang merupakan adat istiadat serta kesenian seperti yang tertuang dalam KBBI akan mampu memberikan makna budaya baru yang kekinian.
“Kami memang ingin membuat terobosan untuk menarik perhatian masyarakat melalui kolaborasi kidung, tari dan lukis dari 25 negara,” kata Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar Dr. Ketut Sumadi, M.Par di Denpasar, Sabtu (25/1).[1]
Fenomena tersebut mendorong Lauren, aktivis mahasiswa asal UTS (University Technology of Sydney) yang bekerjasama dengan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara sangat antusias untuk memperkenalkan batik pada generasi muda. Louren bersama teman-teman satu timnya membuat project yang dinamakan AMBATIK, yakni kaos yang menggunakan motifa batik modern. “Sebelumnya kami melakukan research terlebih dahulu terhadap mahasiswa kenapa mereka tidak mau pakai batik, alasannya kuno, harganya mahal, maka kami membuat sesuatu yang menarik mereka untuk mau memakai batik,” ungkap Lauren.[2]
Senada dengan Lauren dan timnya, para seniman seman wayang menjadikan melalui pertunjukan Kolaborasi Seni Pertunjukan Wayang Tradisional ASEAN-Tiongkok di TBJT Solo (17/9/204) sebagai langkah untuk menghidupkan wayang pada jiwa generasi muda khususnya. Ki Manteb Sudarsono, salah satu dalang wayang kulit kondang memaparkan bahwa adanya kemungkinan munculnya wayang kontemporer dimana ceritanya bisa dikembangkan berjiwa muda.
”Tidak perlu berputar-putar dan berdebat mengenai keharusan mempertahankan tradisi dan identitas yang dulu. Atau haruskah kita mencari identitas baru. Pengembangan itu strategi untuk membuat generasi muda mau mempelajari wayang dan bergerak maju,” ungkap Ki Mantep yang dilangsir dalam kompas.com.[3]
Seniman musik asal kota Solo yang tergabung dalam Solo Beatbox Community (SBC) juga menunjukan antusiasnya dalam menumbuhkan rasa cinta budaya pada generasi muda. Menciptakan musik kreatif yang mengandalkan bunyi yang dihasilkan alat ucap ketika performance, namun mereka juga berkolaborasi dengan beberapa aliran seni musik, seperti keroncong, melayu, seriosa, dan beberapa jenis musik lainnya mampu mendapatkan perhatian dari generasi muda.
Pemerintah di berbagai daerah juga mengadakan event bahkan kebijakan di pemerintahan yang bertujuan untuk melestarikan budaya. Pemerintah Kabupaten Tegal misalnya, akan menggelar Festival  Dalang Dulongmas dengan tema “Dalang Muda Menantang Jaman” pada 10 – 14 November mendatang.[4] Event seperti itu tentulah sangat bagus untuk melestarikan kebudayaan mengingat anak muda zaman sekarang cenderung tidak tertarik dengan keahlian dalang. Dengan diadakannya event tersebut, berarti pemerintah telah berpartisipasi dalam menciptakan kembali tradisi berpikir anak muda yang cerdas, kreatif, dan innovativ dalam hal melestarikan warisan budaya.
Begitu juga dengan Kota Solo, Pemerintah Kota Solo juga memberikan kebijakan yang mengharuskan seluruh Pegawai Negeri Sipil untuk memakai pakaian tradisional setiap hari Kamis. Memang pada awalnya aturan ini banyak menimbulkan pro dan kontra karena pegawai merasa bekerja dengan memakai pakaian tradisional tentulah ribet. Namun seiring berjalannya waktu seluruh elemen masyarakat ikut bergerak dengan ikhlas mendukung program pemerintah yang bertujuan positif ini. Nofik Lukman Hakim seorang PNS di kota Solo yang dihubungi lewat social messenger pada Minggu (26/10) berkata bahwa “Menurut saya kebijakan dari pemerintah kota Solo ini dapat memperbaiki citra kota Solo yang katanya mulai kehilangan jati dirinya sebagai kota berbudaya. Namun selain untuk mempertahankan kebudayaan dengan baik, kebijakan ini juga membuat Kota Solo menjadi kota pertama yang berani menerapkan tentang pemakaian baju tradisional dan menjadi kelebihan tersendiri bagi kota Solo untuk mempertahankan eksistensinya sebagai “The Spirit of Java” Hal ini tentunya tak lepas dari upaya pemerintah untuk tetap menjaga warisan budaya asli Indonesia.
Tak hanya pemerintah, pihak swasta seperti PT Djarum Tbk. juga ikut berpartisipasi dalam hal mendukung semangat kreatif masyarakat untuk meningkatkan apresiasi terhadap hasil budaya Indonesia. Sejak tahun1992, melalui program Djarum Apresiasi Budaya PT Djarum telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti Bengkel Teater Rendra, Teater Koma, Putu Wijaya Butet Kertaredjasa dll. Selain itu masih banyak budayawan, seniman, maupun kelompok kesenian yang telah menjalin kerjasama dalam mengaktualisasikan gagasan kreatifnya. Apresiasi yang telah dilakukan antara lain menyelenggarakan Pesona Batik Kudus untuk melestarikan batik Kudus dan membantu meningkatkan industry batik Kudus yang hampir punah.[5]
Sudah seharusnya seluruh elemen masyarakat berpartisipasi mendukung pelestarian hasil budaya Indonesia. Berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak tentunya mempunyai harapan agar nantinya ruang-ruang ekspresi dan apresiasi budaya lebih terbuka, dan komunikasi antar kultur budaya dapat terjalin lebih erat lagi.
Melalui kolaborasi-kolaborasi budaya diharapkan generasi muda bangsa ini juga tak kehilangan arah dalam memahami dan mencintai budaya asli Indonesia sehingga semangat persatuan, kesatuan serta cita-cita kebangsaan bersemi kembali dibenak gerasi penerus bangsa  melalui ragam budayanya.  
Apakah harus menunggu Negara lain mengklaim budaya Indonesia terlebih dahulu baru kita merebutnya kembali? Pertanyaan ini mungkin dapat dijadkan sebuah renungan dalam diri kita masing-masing agar kita tetap terus mencintai dan melestarikan budaya kita. Salam Budaya!


[1]http://news.detik.com/read/2012/10/02/070858/2051179/10/ayo-pakai-batik-di-hari-batik-nasional
[1] http://posbali.com/pementasan-unik-ihdn-denpasar-2/
[2]http://www.umn.ac.id/home/viewarticle/Mahasiswa_UMN_dan_UTS_Kolaborasi_Hasilkan_Ragam_Karya_Batik
[3]http://travel.kompas.com/read/2014/09/24/143500427/Ketika.Bima.Berkolaborasi.dengan.Naga
[4] http://berita.suaramerdeka.com/pemkab-tegal-akan-gelar-festival-dalang-dulongmas-2014/
[5] http://www.djarumfoundation.org/program_details.php?page=budaya


Priska Enggar Kinanthi
Rizky Riana
Tika Septiana

Budaya kita yang (dianggap ) kuno.

http://kesetiakawanan.com/

Perkembangan teknologi sering dikambinghitamkan sebagai salah satu penyebab lunturnya kebudayaan yang sudah tertanam dalam masyarakat, walaupun sebenarnya teknologi juga mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik[1]  Melalui pemanfaatan teknologi yang kurang cermat, para generasi muda cenderung belajar budaya-budaya yang menurut mereka lebih up to date  ketimbang budaya warisan nenek moyang.
Seperti yang dialami oleh Aditya Roosvianto warga Bangkalan Madura. Aditya menuturkan bahwa anak-anak muda dilingkungannya jarang yang dapat berbahasa Madura yang enggi bunten (bahasa halus yang diperuntukkan bagi orang yang lebih tua) karena cenderung meniru apa yang ada ditelevisi yang diaggap lebih gaul dari bahasa daerah.[2]
Selain itu, Finalis Abang-None 2014 dari Kepulauan Seribu, Mohammad Eko Prasetya juga berpendapat bahwa lunturnya kecintaan anak muda disebabkan oleh masuknya arus budaya barat dan anggapan bahwa budaya seperti wayang kulit hanyalah tontonan bagi orangtua.[3]
Kemudian diwawancarai via chat facebook pada Minggu (26/10) Mikha Kawangmani menyatakan bahwa ia lebih memilih suartu acara yang simple dari pada berbau adat arena  dinilai dari segi efisiensi biaya yang lebih mahal jika memakai prosesi adat yang terkesan lebih panjang dan membutuhkan banyak kelengkapan.
Untuk sementara,melalui kedua pendapat tersebut ada indikasi bahwa kebudayaan yang memang sudah puluhan bahkan ratusan tahun ada dalam masyarakat mulai termarjinalkan karena eksistensinya yang menurun lantra dianggap tidak up to date dan tidak efisien oleh sebagian genersi muda sekarang ini.



[1] http://news.okezone.com/read/2014/10/25/65/1056896/budaya-dan-teknologi-itu-ibarat-bayi-kembar
[2] http://news.okezone.com/read/2014/10/25/340/1056794/tokoh-budaya-madura-luntur-karena-pemerintah-abai
[3] http://lifestyle.okezone.com/read/2014/10/21/406/1055180/pesta-rakyat-hidupkan-budaya-indonesia


Priska Enggar Kinanthi
Rizky Riana
Tika Septiana

Kolaborasi Budaya, Perjalanan Cinta Lama yang Bersemi Kembali

Repertoir gerak teatrikal kolaborasi seniman Jepang dan Jogja 

Apa yang ada dalam benak kita saat kita mendengar kata “budaya”? Baju adat? Tarian-tarian seperti tari Saman, Reog,? upacara adat, lagu-lagu daerah, atau sesuatu yang terkesan kuno dan antik?  Atau benar-benar tidak memiliki bayangan dan kemudian mengetikkan keyword “budaya” pada kotak  search engine  seperti Google, Yahoo, atau semacamnya sambil mengingat-ingat kembali materi saat duduk di bangku sekolah untuk merangsang otak kita dalam menemukan  jawabannya.
Pengertian mengenai budaya yang diajarkan ketika di bangku sekolah yang paling umum adalah menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[1]. Akhirnya sarana tersebut direalisasikan oleh masyarakat itu sendiri dalam berbagai bentuk yang telah kita ketahui hingga saat ini seperti bahasa, tempat tinggal, pakaian, berbagai macam kesenian, upacara-upacara adat . Ringkasnya seperti pendapat seorang ahli sosiologi bernama J.J. Hoenigman yang membedakan wujud kebudayaan menjadi 3 bagian yaitu gagasan (ide), tindakan, dan artefak (karya dalam bentuk fisik)[2]
Masih belum hilang diingatan kita ketika mulai sekitar sekitar tahun 2007[3] kekayaan budaya Indonesia mulai di klaim oleh Negara tetangga mulai dari kesenian Reog Ponorogo, Lagu daerah Ambon Rasa Sayange, tari pendet, batik, alat music Tor-tor Sumatera utara hingga naskah-naskah kuno beberapa daerah diIndonesia. Dilansir melalui situs http://budaya-indonesia.org setidaknya terdapat 32 daftar artefak budaya Indonesia yang di klaim bangsa lain
Mengapa klaim budaya asli milik Indonesia bisa terjadi? Salah siapa sebenarnya? Pemerintahkah? Negara pengklaim kah? Atau masyarakat sebagai pemilik budaya? Tampaknya focus perdebatan mengenai hal tersebut dapat sedikit dialihkan kepada hal lain yang lebih memiliki nilai positif  seperti mencerna penyebab-penyebab hal tersebut dapat terjadi.




[1] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23921/4/Chapter%20I.pdf
[2] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19646/3/Chapter%20II.pdf
[3] http://www.tempo.co/read/news/2012/06/20/173411849/Tujuh-Klaim-Budaya-oleh-Malaysia-Sejak-2007


Priska Enggar Kinanthi
Rizky Riana
Tika Septiana

Batik Jadi Lifestyle Dunia

Outlet Batik Kembar Yogyakarta di Jalan Jl. Alamanda no. 14 Gejayan

Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang semakin melejit namanya di kancah internasional. Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Intagible Cultural Heritage of Humanity menjadikan batik sebagai “Fashion Icon of Indonesia”. Imbas positif dari pengakuan UNESCO tersebut, seperti yang dikatakan oleh Menteri Perindustrian, Kabinet Indonesia Bersatu II, MS Hidayat, pada peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2014 silam, bahwa pengusaha batik memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sumbangan dari industri batik ini berupa peningkatan devisa serta pendapatan bagi daerah, pengusaha industri, perajin, dan pedagang.
Salah satu sosok pengusaha Batik tersebut adalah Aulia Arifatu. Di sela kesibukannya sebagai asisten dosen dan asisten surveyor Fakultas Ekonomi International Program Universitas Islam Indonesia, Aulia tengah mengembangkan usaha Batik modern yang diberi nama Batik Kembar. “Nama batik kembar ini diambil dari adik saya yang kembar. Adik terakhir saya adalah kembar, mereka bernama Fatah dan Fatih. Sebagai rasa syukur atas karunia Allah karena keluarga kami di anugrahi anak kembar, maka usaha ini diberi nama “Batik Kembar, “ ungkap perempuan asal Kota Batik ini.
Pilihannya jatuh kepada usaha Batik modern didukung optimisme perkembangan batik Dorongan berbagai pihak seperti program program pemerintah, seniman, dan masyarakat itu sendiri juga menjadi aksi nyata semangat pelestarian budaya Bangsa. Aulia memandang dengan diiberlakukanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada awal tahun 2015 nanti menjadikan batik sebagai peluang yang baik dalam memajukan perokonomian Indonesia di bidang Industri kreatif.
“Jadi, saya memilih usaha batik modern ini karena saya ingin membawa batik sebagai fashion heritage tidak hanya di Indonesia, tapi juga fashion heritage untuk dunia, “ungkapnya.
Pengakuan Batik secara internasional memunculkan tantangan baru untuk para pelaku usaha Batik. Mereka dituntut untuk membuat warisan budaya tersebut mampu beradaptasi dengan trend fashion dunia. Batik bukan lagi kain bermotif yang dipakai pada acara resmi, tetapi lebih dari itu Batik menjadi busana yang dapat dikrasikan untuk pelbagai suasana dan usia. Assosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta selalu mengeluarkan trend fashion forecast terbaru yang juga menjadi panutan bagi rancangan Batik Kembar.
Tidak hanya dari sisi produk, Aulia juga menggeluti bidang muslimah modelling yang dianggap relevan untuk pemasaran produknya. Selain itu dia juga seorang freelance muslimah model, fashion dan hijab stylist. Totalitas yang Aulia bangun tidak sia – sia, terbukti Batik Kembar kerap menjadi sponsor beberapa acara seperti Pemilihan Putra Putri Batik dan show di panggung Jogja Fashion Week 2014.

Sebagai seorang pengusaha muda, Aulia berpesan kepada para pemuda untuk bangga terhadap produk-produk Indonesia, guna menghapus image konsumen Indonesia yang terkenal dengan karakter “foreign brand liker”-nya.

Ulfa Arieza

Seniman Gila! Tampil 5 Menit Tapi Dikenang

Seni Musik Kontemporer

Budaya kontemporer atau lebih tepatnya seni kontemporer hadir di tengah kesibukan masyarakat yang kian padat. Sebagai contoh jaman sekarang sudah jarang orang yang mau menikmati kesenian murni tradisional. Ketika masyarakat ibukota seperti daerah di Jakarta mulai mengadopsi budaya barat, mengedepankan life style dan mengesampingkan kesenian tradisionalkesenian tradisionalpun jarang ada peminatnya kecuali ada tokoh-tokoh yang mau melestarikan kesenian tradisionalnya. Hal tersebut dikarenakan mindset yang berbeda dengan seniman dan penikmat seni. Ketika masyarakat ibu kota memiliki tujuan mencari uang, maka tidak akan bisa disatukan dengan tujuan seorang seniman dan penikmat seni yang murni akan kepuasan batin. Dengan inilah budaya dan kesenian kontemporer lahir untuk mengingatkan masyarakat bahwa mereka masih memiliki kesenian yang bisa mengikuti perkembangan jaman seiring dengan kebutuhan hidup orang masa kini.
Ketika kita membahas musik kontemporer, maka kita akan teringat akan nama yang tak asing lagi di telinga seperti Djadug Fahriyanto, Soimah bahkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Namun kita akan keluar dari tokoh-tokoh seni termashyur itu dan akan menyoroti salah seorang seniman kontemporer yang kini sedang mengembangkan seni musik kontemporer di Tarakan, Kalimantan. Wanita yang berprofesi sebagai guru di SMK N  Tarakan ini kerap di sapa Bu Enok Guru Seni yang Gila. Sapaan tersebut bukanlah sapaan ejekan yang menyakitkan, namun menurutnya sapaan tersebut adalah pengahargaan yang diberikan untuknya dari orang-orang yang kagum dengan karya seninya. “Loh kalau karya saya ngga gila ngga ada yang mau nonton!” katanya tegas dan lantang bahkan speaker handphone yang sedikit eror pun tak bisa menghalangi kata-katanya yang menegaskan bahwa karya seni itu harus gila, kalau tidak gila orang tidak mau menontonnya.
Tidak mudah mengenalkan seni kontemporer khususnya musik kontemporer yang tergolong baru ini pada khalayak. Bahkan beberapa seniman daerahpun sulit menerima datangnya musik kontemporer. Swara Etnika Perkusi contohnya, grup perkusi siswa SMK 3 Tarakan ini bentukan Bu Enok yang menggabungkan anatara alat musik jawa yaitu saron dan alat musik khas Indonesia timur yaitu jimbe atau tifa ditambah alat musik modern lainnya simbal drum, awalnya dipandang sebelah mata karena menurut orang-orang hal tersebut tidak mungkin dan aneh. “Tapi ya pelan-pelan saya buktikan, ternyata hanya dengan saron, jimbe dan simbal drum saja di Tarakan sudah Heboh” ceritanya. Menurut Bu Enok namaya berkesenian, ingin menapilkan inovasi baru namun tetap tidak menghilangkan pakem dari seni tersebut. Karena jaman sekarangpun sulit menemukan orang yang benar-benar penikmat seni pure seni tradisional. Jadi memang harus berinovasi dengan mengkolaborasikan seni khususnya seni musik dengan cara menggabungkan unsur dari beberapa kesenian daerah atau modern.
Sedangkan konsep musik kontemporer bukanlah musik yang harus kita dengarkan berjam-jam dan terkadang cenderung mengarah ke dalam kebosanan, namun musik yang hanya ditampilkan 5 menit saja namun dikenang. Walau malam semakin larut, namun Bu Enok seorang seniman gila ini masih semangat bercerita akan indahnya dan nikmatnya mencipta musik kontemporer melalui facebook call. “Jangan sampai berpikiran kalau berkesenian sama saya, harus menang tapi cobalah berpikir kita harus beda dan slalu diingat. Karen bisa memberikan suatu yang baru dan selalu diingat, org akan lebih senang ketika kamu tampil 5 menit tapi orang itu akan mengenang selamanya dari pada kamu tampil berjam-jam tapi orang akan bosen. Karena berkesenian itu kepuasan batin dan seni itu aneh, kalaungga aneh ngga mau ditonton”.

Phulia Negara

Jejak Sang Penenun di Tanah Flores



Larantuka adalah Ibu Kota Kabupaten Flores Timur yang berada di belahan terjauh bagian timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dikutip dari website resmi Wonderful Indonesia Larantuka sejatinya memiliki peran penting dalam penamaan pulau yang menggenggamnya, yaitu Flores. Nama Pulau Flores diperkirakan berawal dari tempat ini. Dahulu Larantuka disebut sebagai Tanjung Bunga (Cape of Flower). Dalam bahasa Portugis, Tanjung Bunga diucapkan sebagai Cabo da Flora atau Cabo da Flores. Dari nama itu, pulau tersebut secara keseluruhan hingga kini disebut Flores.
Tanah Flores menyimpan banyak warisan asli Indonesia, salah satunya adalah tenun khas Flores. Dilansir dari berita perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) tenun flores tlelah menjadi ciri khas budaya Indonesia, hingga menarik minat KBRI  Brasilia  untuk mengundang  Alfonsa  Horeng  guna mempromosikan  tenun  ikat  Flores  di hadapan  khalayak  masyarakat  setempat  dan   korps  diplomatik  di  Brasilia (Berita Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia  melalui http://www.kemlu.go.id.
Kerajinan tenun tersebut tercermin pada salah satu patung Tanah Larantuka yang melegenda yaitu patung Mama Wulu. Ulasan dari sumber  Detik.com menegaskan bahwa berdasarkan publikasi dari Ruth Barnes dari Asmolean Museum, Oxford, London yang diterbitkan di Oxford Asian Textile Group Newsletter No 37 Juni 2007, diperkirakan patung perunggu ini dibuat antara tahun 556-596 AD. Patung mungil ini dinilai sangat unik karena menggambarkan sejarah perkembangan teknik menenun. Tergambar secara rinci baris dan lajur benang tenun dan juga motif tenun khas Flores pada alat tenun yang ada dipangkuannya. Disamping itu, kombinasi tahun pembuatan dan juga bahan pembuatan patung ini membuat Sang Penenun semakin unik dan berharga sehingga pada tahun 2006 dinobatkan sebagai “Master Piece of the 6th Century of Indonesia Sculpture” oleh National Gallery of Australia.
Mama Wulu atau Sang penenun adalah patung perunggu yang menunjukan fakta bahwa teknik tenun sudah menjadi budaya leluhur tanah Flores. Dilansir dari Detik.com. Alat tenun sederhana yang digunakan Sang Penenun masih dapat kita jumpai di daerah terpencil di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan analisa pakar dari National Gallery of Australia tampaknya pembuat patung ini sangat mengetahui teknik menenun, sehingga alat tenun yang ada dipangkuan Sang Penenun dibuat demikian akuratnya. Fakta ini menunjukkan bahwa teknik menenun yang ada di Flores sudah ada sejak jaman perunggu. Berdasarkan detail postur tubuh patung tersebut, diduga pembuat patung ini adalah seorang laki-laki.
Namun, menurut berita yang dilansir dari Kompas.com (25/9). Australia  patung ini telah hilang seraca misterius pada tahun 1977. Hingga tidak diketahui perjalanannya, patung tersebut dapat sampai ketangan seorang kolektor benda antik asal Swiss.  Hingga kini, Sang Penenun dari Tanah Flores tersebut masih berada di National Gallery of Australia

 
Support : Mas Template
Copyright © 2011. Warta Satu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger