Barometer Warta Indonesia

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label hot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hot. Tampilkan semua postingan

Mengenal KRI John Lie, Kapal Tempur Baru TNI AL Berjenis Frigate

Written By Hidup dengan NILAI lebih on Minggu, 14 Desember 2014 | 20.48

engukuhan KRI John Lie oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI DR Marsetio MM, Sabtu (13/12/2014)
(kompas.com)


Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI DR Marsetio MM, Gubernur Sulawesi Utara SH Sarundajang dan Panglima Armada Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Ary Hendricus Sembiring resmi mengukuhkan penggunaan nama KRI John Lie 358. Kapal ini adalah kapal perang jenis frigate pabrikan Inggris, yang diresmikan di Dermaga Pelabuhan Samudera Bitung, Sabtu (13/12/2014).
Komandan KRI John Lie, Kolonel Laut (P) Antonius Widyoutomo kemudian menjelaskan alasan penamaan John Lie. Menurutnya, Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma, atau yang lebih dikenal sebagai John Lie, adalah seorang perwira tinggi TNI AL dari etnis Tionghoa yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. John Lie lahir pada tanggal 9 Maret 1911 di Manado, Sulawesi Utara.
"Pengalamannya sebagai pelaut dan pengetahuan taktik tempur laut serta pembersihan ranjau laut didapat saat bekerja sebagai Klerk Mualim III di perusahaan pelayaran niaga milik Belanda selama beberapa tahun hingga terjadi Perang Dunia II. Dan saat perang dunia II berakhir beliau bergabung dengan Marine Division pada Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS)," tutur Anton.
Anton melanjutkan, atas prestasi John Lie dia diterima di angkatan Laut RI dan diperintahkan untuk bertugas di Cilacap dengan pangkat Kapten, di pelabuhan. Menurut Lulusan Akabri tahun 1993 ini,  John Lie menorehkan prestasi berhasil membersihkan ranjau yang ditanam oleh Jepang untuk menghadapai pasukan sekutu. "Atas jasanya itu beliau dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor," ucap Anton.
John Lie dalam tugasnya mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut hasil bumi menuju Singapura dibarter dengan senjata yang nantinya akan diserahkan kepada pejabat RI di Sumatera sebagai sarana perjuangan melawan Belanda dengan melakukan operasi menembus blokade Belanda.
"Beliau menggunakan kapal cepat eks kapal angkatan Laut Inggris yang dinamakan 'The Outlaw' yang diawaki oleh 15 ABK. Beberapa media menjuluki beliau sebagai 'The Great Smuggler with the Bible' dan atas jasa beliau kemudian dianugerahi tanda jasa pahlawan oleh Presiden Soekarno waktu itu," papar Anton.
Adapun spesifikasi KRI John Lie, menurut Kolonel Anton, adalah KRI yang paling canggih yang dimiliki oleh TNI AL saat ini. KRI John Lie memiliki teknologi yang dibeli dari Inggris serta merupakan yang terbaru di jenisnya.
"Kapal tempur ini jenis Frigate yang memiliki kemampuan peperangan permukaan, udara, bawah air dan peperangan eletronika. Kemampuan peperangan multi dimensi, bahkan ada heli tempur on board, bisa diantisipasi semuanya bukan hanya fisik," kata dia.
Pria yang sudah tujuh kali menjadi komandan kapal KRI ini jelas bukan sembarang memuji KRI John Lie 358. Sebab, dari tujuh KRI yang dikomandaninya, inilah yang dianggap Kolonel Anton sebagai yang tercanggih.
"Kecanggihannya saja saat ini sesuai standar Kapal Perang NATO, dan merupakan kapal yang tercanggih yang ada di ASEAN saat ini," sebutnya.
KRI John Lie dibeli dari Inggris masuk ke Armatim di Surabaya setelah menempuh 44 hari perjalanan dari Inggris dan tiba beberapa saat sebelum pelaksanaan HUT TNI di Surabaya. "Kami yakin dengan makin canggihnya peralatan tempur TNI AL sekarang ini bisa meredam aksi pencurian di laut juga menjaga keutuhan NKRI yang kita cintai ini," tukasnya. (tribunmanado/Christian Wayongkere)

Van Gaal Angkat Topi untuk De Gea

Kiper Manchester United, David de Gea. (kompas.com)


Manajer Manchester United, Louis van Gaal, menilai kiper David De Gea berperan besar dalam keberhasilan timnya mengalahkan Liverpool pada pertandingan Premier League, di Old Trafford, Minggu (14/12/2014).

MU memenangi laga itu dengan skor 3-0, berkat gol Wayne Rooney (12), Juan Mata (40), dan Robin van Persie (71). Semua gol MU merupakan hasil tendangan first time.

Hasil akhir mungkin berubah jika De Gea tak menggagalkan peluang-peluang penting Liverpool, anntara lain tembakan Raheem Sterling dari tengah kotak penalti, pada menit ke-51 dan tembakan Mario Balotelli pada menit ke-67.

"Saya bangga karena kami tak kebobolan dan itu berkat reaksi luar biasa dari David de Gea. Kami mencetak gol fantastis dengan satu sentuhan dan saya senang dengan itu," puji Van Gaal. 

Hasil ini merupakan kemenangan keenam bagi MU dari enam pertandingan terakhir. Dengan kemenangan tersebut, MU duduk di peringkat ketiga dengan nilai 31, atau kalah delapan angka dari Chelsea di puncak klasemen. Adapun Liverpool duduk di peringkat kesembilan dengan nilai 21.

"Kami meraih enam kemenangan beruntun. Itu fantastis. Namun, kami masih harus meningkatkan permainan kami. Hanya setelah pertandingan melawan QPR (Queens Park Rangers) dan Hull City, kami bisa mendominasi pertandingan.  Kami harus berusaha meraih kemenangan dengan lebih mudah," beber Van Gaal. 

(http://bola.kompas.com/read/2014/12/15/06010048/Van.Gaal.Angkat.Topi.untuk.De.Gea.)

Seniman Gila! Tampil 5 Menit Tapi Dikenang

Seni Musik Kontemporer

Budaya kontemporer atau lebih tepatnya seni kontemporer hadir di tengah kesibukan masyarakat yang kian padat. Sebagai contoh jaman sekarang sudah jarang orang yang mau menikmati kesenian murni tradisional. Ketika masyarakat ibukota seperti daerah di Jakarta mulai mengadopsi budaya barat, mengedepankan life style dan mengesampingkan kesenian tradisionalkesenian tradisionalpun jarang ada peminatnya kecuali ada tokoh-tokoh yang mau melestarikan kesenian tradisionalnya. Hal tersebut dikarenakan mindset yang berbeda dengan seniman dan penikmat seni. Ketika masyarakat ibu kota memiliki tujuan mencari uang, maka tidak akan bisa disatukan dengan tujuan seorang seniman dan penikmat seni yang murni akan kepuasan batin. Dengan inilah budaya dan kesenian kontemporer lahir untuk mengingatkan masyarakat bahwa mereka masih memiliki kesenian yang bisa mengikuti perkembangan jaman seiring dengan kebutuhan hidup orang masa kini.
Ketika kita membahas musik kontemporer, maka kita akan teringat akan nama yang tak asing lagi di telinga seperti Djadug Fahriyanto, Soimah bahkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Namun kita akan keluar dari tokoh-tokoh seni termashyur itu dan akan menyoroti salah seorang seniman kontemporer yang kini sedang mengembangkan seni musik kontemporer di Tarakan, Kalimantan. Wanita yang berprofesi sebagai guru di SMK N  Tarakan ini kerap di sapa Bu Enok Guru Seni yang Gila. Sapaan tersebut bukanlah sapaan ejekan yang menyakitkan, namun menurutnya sapaan tersebut adalah pengahargaan yang diberikan untuknya dari orang-orang yang kagum dengan karya seninya. “Loh kalau karya saya ngga gila ngga ada yang mau nonton!” katanya tegas dan lantang bahkan speaker handphone yang sedikit eror pun tak bisa menghalangi kata-katanya yang menegaskan bahwa karya seni itu harus gila, kalau tidak gila orang tidak mau menontonnya.
Tidak mudah mengenalkan seni kontemporer khususnya musik kontemporer yang tergolong baru ini pada khalayak. Bahkan beberapa seniman daerahpun sulit menerima datangnya musik kontemporer. Swara Etnika Perkusi contohnya, grup perkusi siswa SMK 3 Tarakan ini bentukan Bu Enok yang menggabungkan anatara alat musik jawa yaitu saron dan alat musik khas Indonesia timur yaitu jimbe atau tifa ditambah alat musik modern lainnya simbal drum, awalnya dipandang sebelah mata karena menurut orang-orang hal tersebut tidak mungkin dan aneh. “Tapi ya pelan-pelan saya buktikan, ternyata hanya dengan saron, jimbe dan simbal drum saja di Tarakan sudah Heboh” ceritanya. Menurut Bu Enok namaya berkesenian, ingin menapilkan inovasi baru namun tetap tidak menghilangkan pakem dari seni tersebut. Karena jaman sekarangpun sulit menemukan orang yang benar-benar penikmat seni pure seni tradisional. Jadi memang harus berinovasi dengan mengkolaborasikan seni khususnya seni musik dengan cara menggabungkan unsur dari beberapa kesenian daerah atau modern.
Sedangkan konsep musik kontemporer bukanlah musik yang harus kita dengarkan berjam-jam dan terkadang cenderung mengarah ke dalam kebosanan, namun musik yang hanya ditampilkan 5 menit saja namun dikenang. Walau malam semakin larut, namun Bu Enok seorang seniman gila ini masih semangat bercerita akan indahnya dan nikmatnya mencipta musik kontemporer melalui facebook call. “Jangan sampai berpikiran kalau berkesenian sama saya, harus menang tapi cobalah berpikir kita harus beda dan slalu diingat. Karen bisa memberikan suatu yang baru dan selalu diingat, org akan lebih senang ketika kamu tampil 5 menit tapi orang itu akan mengenang selamanya dari pada kamu tampil berjam-jam tapi orang akan bosen. Karena berkesenian itu kepuasan batin dan seni itu aneh, kalaungga aneh ngga mau ditonton”.

Phulia Negara

Jejak Sang Penenun di Tanah Flores



Larantuka adalah Ibu Kota Kabupaten Flores Timur yang berada di belahan terjauh bagian timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dikutip dari website resmi Wonderful Indonesia Larantuka sejatinya memiliki peran penting dalam penamaan pulau yang menggenggamnya, yaitu Flores. Nama Pulau Flores diperkirakan berawal dari tempat ini. Dahulu Larantuka disebut sebagai Tanjung Bunga (Cape of Flower). Dalam bahasa Portugis, Tanjung Bunga diucapkan sebagai Cabo da Flora atau Cabo da Flores. Dari nama itu, pulau tersebut secara keseluruhan hingga kini disebut Flores.
Tanah Flores menyimpan banyak warisan asli Indonesia, salah satunya adalah tenun khas Flores. Dilansir dari berita perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) tenun flores tlelah menjadi ciri khas budaya Indonesia, hingga menarik minat KBRI  Brasilia  untuk mengundang  Alfonsa  Horeng  guna mempromosikan  tenun  ikat  Flores  di hadapan  khalayak  masyarakat  setempat  dan   korps  diplomatik  di  Brasilia (Berita Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia  melalui http://www.kemlu.go.id.
Kerajinan tenun tersebut tercermin pada salah satu patung Tanah Larantuka yang melegenda yaitu patung Mama Wulu. Ulasan dari sumber  Detik.com menegaskan bahwa berdasarkan publikasi dari Ruth Barnes dari Asmolean Museum, Oxford, London yang diterbitkan di Oxford Asian Textile Group Newsletter No 37 Juni 2007, diperkirakan patung perunggu ini dibuat antara tahun 556-596 AD. Patung mungil ini dinilai sangat unik karena menggambarkan sejarah perkembangan teknik menenun. Tergambar secara rinci baris dan lajur benang tenun dan juga motif tenun khas Flores pada alat tenun yang ada dipangkuannya. Disamping itu, kombinasi tahun pembuatan dan juga bahan pembuatan patung ini membuat Sang Penenun semakin unik dan berharga sehingga pada tahun 2006 dinobatkan sebagai “Master Piece of the 6th Century of Indonesia Sculpture” oleh National Gallery of Australia.
Mama Wulu atau Sang penenun adalah patung perunggu yang menunjukan fakta bahwa teknik tenun sudah menjadi budaya leluhur tanah Flores. Dilansir dari Detik.com. Alat tenun sederhana yang digunakan Sang Penenun masih dapat kita jumpai di daerah terpencil di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan analisa pakar dari National Gallery of Australia tampaknya pembuat patung ini sangat mengetahui teknik menenun, sehingga alat tenun yang ada dipangkuan Sang Penenun dibuat demikian akuratnya. Fakta ini menunjukkan bahwa teknik menenun yang ada di Flores sudah ada sejak jaman perunggu. Berdasarkan detail postur tubuh patung tersebut, diduga pembuat patung ini adalah seorang laki-laki.
Namun, menurut berita yang dilansir dari Kompas.com (25/9). Australia  patung ini telah hilang seraca misterius pada tahun 1977. Hingga tidak diketahui perjalanannya, patung tersebut dapat sampai ketangan seorang kolektor benda antik asal Swiss.  Hingga kini, Sang Penenun dari Tanah Flores tersebut masih berada di National Gallery of Australia

Chelsea Masih Di Puncak

Written By Unknown on Senin, 08 Desember 2014 | 14.59

Film "Mockingjay" Part 1 Rilis Bulan Ini!


Kurang Aman, Artefak Kuno Ini Juga Hilang dari Museum Nasional!

Sumber:  Foto Artefak Museum Gajah yang Digondol Maling. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/443963-foto-dan-spesifikasi-artefak-museum-gajah-yang-digondol-maling


Selain Mama Wulu dari  Larantuka, Flores, ada beberapa artefak bersejarah Indonesia yang hilang, empat diantaranya hilang dari Museum Nasional atau museum Gajah di Jakarta. Artefak-artefak yang hilang dicuri tersebut adalah  peninggalan-peninggalan milik Mataram Kuno dari abad 10 Masehi. Seperti yang di lansir dari Tempo.co (12/9/2013) Artefak-artefak terseut antara lain:
(1) Lempeng Naga Mendekam Berinskipsi berbentuk naga bermahkota dalam posisi melingkar, Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur. Panjangnya 5,6 sentimeter dengan lebar 5 sentimeter.
(2) Lempeng Bulan Sabit Beraksara, bentuknya seperti bulan sabit dan deretan segitiga seperti cakar. Panjangnya 8 sentimeter dengan lebar 5,5 sentimeter.  
(3) Wasah bertutup (cepuk), benda ini berbentuk seperti dandang tertutup tanpa pegangan dan tutupnya berbentuk bundar Diameternya 6,5 sentimeter dengan tinggi 6,5 sentimeter;
(4) Lempeng Harihara, artefak ini berbentuk lembaran melukiskan arca Harihara yang berdiri di atas bantalan teratai ganda. Dengan panjang 10,5 sentimeter dan lebar 5,5 sentimeter, lempengan ini dibuat dari campuran perak dan emas.
Lembaran lempeng-lempeng tersebut mengandung mantra-mantra dewa dan hanya terdapat di Indonesia dan India.
Indonesia sangat kaya akan peninggalan bersejarah, karenanya Indonesia menjadi lumbung para kolektor barang antik dari berbagai negara. Bukan tidak mungkin jika beberapa artefak yang hilang adalah pesanan para kolektor dari luar negeri. Karena jika penadah artefak curian adalah orang Indonesia pastilah dapat dilacak karena benda bersejarah tersebut sudah ditandai dengan nomor inventaris benda antik yang dilindungi oleh Negara
Menurut Kombes Rikwanto, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya yang dilansir oleh Viva news (18/12/2013), "Mungkin pedagang akan takut karena barang yang akan dijual itu adalah barang yang dilindungi negara. Kemungkinan terbesar, penyalur dan penampungnya adalah kolektor barang antik,"
Indonesia menjadi incaran yang mulus bagi para kolektor karena sistem pengamanan di museum - museum bersejarah Indonesia terhitung longgar dan tidak ada sistem pengamanan khusus. Hanya mengandalkan kamera CCTV dan penjagaan dari pegawai penjaga museum. Jika kamera CCTV rusak atau pegawai lalai, sungguh ini menjadi sasaran empuk bagi pihak yang mempunyai niat untuk mencurinya.
Menurut Kombes Rikwanto yang kali ini dilansir oleh suara pembaruan(dot)com (2/10/2013) "Dari sisi kelalaian jelas ada karena alarm dan kamera CCTV saat itu tidak berfungsi. Namun juga ada niat dari seseorang untuk mencuri koleksi tersebut," ujarnya. Rikwanto juga mengatakan pihaknya akan terus menyelidiki pencurian artefak Museum Nasional hingga ditemukan titik terang. Sebab, kejadian itu bukan hanya terkait dengan kerugian museum saja, tetapi juga kerugian budaya Indonesia.
Dari kasus-kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain dari peralatan pengamanan seperti CCTV, alarm, dan lan sebagainya, petugas keamanan yang profesiaonal seperti dari kepolisian juga harus ditempatkan di tempat-tempat penyimpanan artefak-artefak tersebut untuk memperketat keamanan.Sudah seharusnya peninggalan bersejarah dilindungi oleh Negara. Karena benda bersejarah adalah jati diri bangsa.
 Menurut Remy Riverino, seorang pemerhati budaya  dalam tulisannya di forum kompasiana (dot) com, “Saya setuju dengan gagasan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa benda-benda bersejarah yang ada di museum agar dapat diduplikasi sehingga yang dipamerkan adalah duplikatnya. Sedangkan yang aslinya disimpan ditempat yang aman dari pencurian, kebakaaran dan bencana alam. Hal ini untuk mencegah terjadi apa-apa atau hal-hal yang tidak diinginkan.”

Masyarakat Advokasi Warisan Budaya: “Raja Masih Bungkam”


Melestarikan warisan budaya dalam volunteerism adalah semangat yang selalu diusung oleh Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA). MADYA merupakan jejaring masyarakat yang memfokuskan diri pada usaha pelestarian warisan budaya. Organisasi ini berdiri sejak tahun 2008 di Kota Yogyakarta. Dalam beberapa kegiatan yang telah dilakukan, tujuannya hanya satu yaitu meningkatkan kesadaran pelestarian budaya.
Mereka menyatakan kesadaran mereka dalam bidang pelestarian budaya seperti yang tertulis dalam blog advokasiwarisanbudaya.blogspot.com. Tidak hanya budaya berbentuk kesenian, bidang budaya berbau alam dan lingkungan juga tak luput dari perhatian. Misalnya, cagar alam dan biodiversitas, serta sistem pertanian pun juga diapresiasi.
Dalam rangka Hari Purbakala Nasional, MADYA turut memeriahkan dengan sejumlah kegiatan. Diantaranya adalah merancang acara Happening Art  yang berisi diskusi mengenai “Carut Marut Pengelolaan Warisan Budaya” dan “Jual Beli Benda Cagar Budaya (BCB) di Kawasan Kotagede”. Kegiatan unik lain yang turut disuguhkan adalah pengenalan mengenai Underwater Archaeology  atau arkeologi bawah laut; yaitu tentang pengelolaan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT). Acara-acara tersebut dipaparkan melalui blognya yang lain, yaitu madyaindonesia.wordpress.com.
Salah satu pekerjaan rumah yang kini dihadapi oleh MADYA adalah berpindahnya patung perunggu Mama Wulu asli Larantuka ke National Gallery of Australia (NGA). Seperti dilansir oleh Kompas.com (25/9) patung tersebut telah hilang secara misterius pada tahun 1977, hingga akhirnya diketahui berada di tangan seorang kolektor benda antik asal Swiss yang kemudian dibeli dengan harga empat kali lebih mahal dari harga pembelian awal oleh NGA.
Jhohannes Marbun selaku Koordinator MADYA mengaku mengetahui dari berita The Australian dengan judul $4m Mistery: How Did NGA End Up with Treasured Indonesian Relic? pada tanggal 18 September 2014 seperti yang dikatakannya dalam RMOLSumsel.com (26/9/2014).
Saat melakukan ekspedisi ke Larantuka untuk penelurusan kasus pada Bulan September 2014 lalu,  ia mengatakan bahwa “Raja Larantuka dan penghubungnya masih belum mau memberikan penjelasan”, kata Jhohannes saat dihubungi melalui akun facebook-nya (30/10). Raja Larantuka dan penghubungnya masih bungkam terkait hilangnya Mama Wulu.

Menurut Jhohannes, “Apabila asal-usulnya tidak terlalu jelas, seharusnya NGA memberitahu koleganya di Galeri atau Museum Nasional Indonesia untuk dimintai informasi”, seperti yang dilansir dari JPNN.com (26/9).

Penenun Wanita Asli Flores, Dimuseumkan di Australia!!!

Patung Mama Wulu di National Gallery of Australia
Sumber:  http://www.theaustralian.com.au/news/features/case-of-the-bronze-weaver/story-e6frg6z6-1227097765010
  

Mama Wulu, wanita kecil mungil yang nampak  sedang menenun sambil menyusui bayinya kini dimuseumkan di National Gallery of Australia (NGA) Canbbera Australia. Ia sebuah patung perunggu keramat dari Larantuka Selatan, Flores. Patung ini telah hilang seraca misterius pada tahun 1977, hingga akhirnya diketahui berada ditangan seorang kolektor benda antik asal Swiss seperti yang dilansir pada Kompas.com (25/9).
Melalui press release pada situs resminya, NGA mencatat bahwa patung berukuran panjang 25,8 centimeter (cm), lebar 22,8cm dan tinggi 15,2cm yang dibuat sekitar abad ke-6 sudah berada ada di NGA sejak 25 Agustus 2006.
Pada saat itu, pembelian patung perunggu asal Larantuka tersebut disaksikan secara langsung oleh direktur galeri Ron Radford dan kurator seni Asia, Robyn Maxwel, yang pensiun akhir september lalu. Para pengelola NGA setuju membayar senilai $4 juta empat kali lebih mahal atau senilai 49 milyar rupiah dari seorang kolektor benda antik berkebangsaan Swiss yang telah menyimpan Mama Wulu selama 30 tahun.
Seperti dilansir dari The Austtralian News (26/10/2006), pihak NGA setuju membeli patung tersebut karena Mama Wulu dinilai memiliki nilai estetika yang tinggi. Pada saat Ruppert Myer (Ketua NGA sekaligus Ketua Dewan Kesenian Australia 2006) pertama kali melihat Patung dari Flores itu sangat kagum dan ia berpendapat bahwa Mama Wulu sangat mencerminkan kebudayaan Asia Tenggara.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof Ronny Rachman Noor, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Australia, melalui detik.com (10/10) menegaskan bahwa berdasarkan publikasi dari Ruth Barnes dari Asmolean Museum, Oxford, UK yang diterbitkan di Oxford Asian Textile Group Newsletter No 37 Juni 2007, diperkirakan patung perunggu ini dibuat antara tahun 556-596 AD. Kombinasi tahun pembuatan dan juga bahan pembuatan patung ini membuat Sang Penenun semakin unik dan berharga sehingga pada tahun 2006 dinobatkan sebagai “ Master Piece of the 6th Century of Indonesia Sculpture” oleh National Gallery of Australia.
Sebenarnya, pemberitaan mengenai keberadaan Mama Wulu sudah menjadi bahan perbincangan hangat media tahun 2006 khususnya oleh media di Australia seperti The Australian dan The Sydney Morning Herald. Misalnya The Sydney Morning Herald menulis artikel berjudul  Gallery Unveils The $4 Million Woman (26 Oktober 2006), Tiny Bronze Commands A Giant Price (November 2006) yang membicarakan seputar asal usul, sisi kemenarikan, dan harga yang terbilang fantastis.
Sekitar bulan September, isu mengenai patung penenun ini kembali menghangat di pemberitaan media Australia. Jhohannes Marbun, koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) juga mengaku mengetahui seputar artefak tersebut dari pemberitaan media di Aussy, the Australian, dengan judul tulisan: $4m mystery: how did NGA end up with treasured Indonesian relic? pada tanggal 18 September 2014, seperti yang dilansir dalam situs berita online RMOLSumsel.com (26/9/2014).
Patung Perunggu itu terakhir kali diketahui berada di Indonesia, ketika salah seorang wanita dari Larantuka Selatan, daerah Flores Timur berfoto memegang benda tersebut pada tahun 1977. Hal tersebut dapat dilacak melalui melalui foto yang dipublikasikan oleh Paul Michael Taylor (sekarang direktur Program Smithsonian untuk Sejarah Kebudayaan Asia di Universitas Smithsonian, Amerika Serikat) dalam buku: Fragile traditions Indonesian Art in Jeopardy pada tahun 1996, sebagaimana diberitakan oleh the Australian News (22/10/2014).
Sejak dikabarkan hilang secara misterius dan kemudian muncul foto Mama Wulu bersama seorang wanita Flores pada tahun 1996, entah bagaimana caranya benda antik itu lalu diketahui berada di tangan seorang kolektor asal Swiss. Hingga akhirnya, sejak 2006 Mama Wulu tercatat telah berada di NGA.
Hilangnya artefak ini masih sulit untuk ditelusuri. Menurut Jhohanes Marbun saat melakukan ekspedisi ke Larantuka pada pertengan bulan lalu, pihak dari Raja Larantuka dan penghubungnya masih bungkam terkait penjelasan hilangnya Mama Wulu.
“Raja Larantuka dan penghubungnya masih belum mau memberikan penjelasan”, ungkap dia saat diwawancarai melalui akun facebook-nya (30/10).
Sedikit berbeda dengan pemaparan Bambang Budi Utomo Peneliti Utama dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengungkapkan bahwa sudah mendapat informasi tentang keberadaan artefak asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, dan tengah mencari literatur berupa buku dan artikel tentang Flores untuk mencari informasi lebih dalam.
"Memang pada 1983 ada rencana tim dari Puslit Arkenas untuk meneliti artefak itu ke Larantuka, tapi benda cagar budaya itu tidak ada lagi di sana," ungkapnya seperti yang dilansir Antara.news (29/9).
Berdasarkan hasil penelusuran Marbun secara online, hanya terdapat beberapa berita yang mengatakan bahwa artefak perunggu dari abad ke-6 masehi tersebut dijual. Dalam bukunya, Taylor juga tidak menyebutkan bahwa benda antik itu diambil secara ilegal dari Indonesia. Namun, ia menyatakan, fakta bahwa benda itu bernilai tinggi seharusnya membuat siapa pun berhati-hati akan adanya transaksi penjualan di baliknya.
Salah satu poin yang harus ditaati sesuai kode etik ICOM (International Council of Museum) yaitu sebelum melakukan proses akuisisi artefak harus dilakukan penelitian tentang asal usul artefak dan kepemilikannya (provenance research) sebagai dasar penetapan keaslian dan kepemilikan.
Hal ini sejalan dengan pendapat MADYA. "Apabila asal-usulnya tidak terlalu jelas, seharusnya GNA memberitahu koleganya di Galeri atau Museum Nasional Indonesia untuk dimintai informasi," jelasnya seperti yang dilansir JPNN.com (26/9).
Pemerintah harus lakukan perlindungan terhadap benda-benda antik yang yang dimiliki oleh Indonesia. Pasalnya sudah tidak sekali ini saja benda-benda artefak asli Indonesia diklaim oleh negara lain. Di sini, pemerintah  terutama bagi Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah, diharapkan mempertegas status kepemilikan warisan budaya atau artefak Indonesia oleh orang atau negara asing yang diduga diperoleh dengan tidak sah.
Seperti diberitakan dari situs Berita Sore, regulasi di bidang kebudayaan yang masih belum jelas seperti terkatung-katungnya pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Kebudayaan serta rancangan Peraturan Pemerintah sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang belum disahkan sampai dengan saat ini, yang tentu saja ini juga menjadi hambatan bagi Indonesia untuk tetap memiliki apa yang menjadi haknya.
Dilansir dari situs MetroTVnews.com, dikatakan oleh Junus Satrio Atmodjo sebagai  Ketua Ikatan Asosiasi Arkeolog Indonesia (IAAI), bahwa perlindungan bermuara dari informasi tentang keberadaan cagar budaya dan upaya pengamanan yang diterapkan untuk melindunginya. Belum semua objek cagar budaya diketahui keberadaannya. Setiap minggu ada saja penemuan-penemuan baru di seluruh Indonesia yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Kenyataan ini menyebabkan bertambahnya jumlah objek yang harus diawaasi. Di lain pihak juga semakin banyak yang hilang tanpa diketahui. Pasar terbesar cagar budaya adalah Bali, Surabaya dan Jakarta sebagai pintu masuk dari dan ke luar negeri. Namun tidak berarti bahwa kota-kota besar lain terbebas dari gejala ini.
Kembali lagi dilansir dari sumber Berita Sore dikatakan oleh Jhohannes Marbun bahwa salah satu faktor pendukung lainnya yang menyebabkan diklaimnya benda artefak asli Indonesia oleh negara lain ini adalah karena lemahnya respon penyelamatan (kedaruratan) dalam pelestarian kebudayaan khususnya kebudyaan atau benda-benda peninggalan yang terancam punah. Tentu saja jika berbicara tentang faktor ini, sangat erat hubungannya dengan respon dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian benda-benda peninggalan sejarah.
Mendengar fenomena pengklaiman patung Mama Wulu oleh Australia ini dikhawatirkan mampu membuat hubungan antara Indonesia-Australia kembali menegang, seperti dilansir dari situs TribunNews.com.
Hal inilah yang menjadi sorotan publik, kembali lagi Indoesia mengalami suatu masalah yang dihadapkan dengan Australia. Sehingga hal ini membuat masyarakat menjadi gerah dan berusaha untuk meneliti tentang keberadaan patung Mama Wulu yang masih dianggap kontroversial, pasalnya ada juga sumber yang mengatakan bahwa patung Mama wulu masih dimiliki oleh warga Larantuka. Bahkan Don Tinus de Diaz Viera Godinho sebagai kepala suku Larantuka pun mengatakan “ini sudah menjadi kesepakatan bahwa tidak akan memberikan kesempatan bagi siapapun untuk melihat patung itu”  yang dilansir dari situs The Australian News.
Keanehan semacam ini semaki membuat masyarakat bertanya-tanya dan menjadi peduli dengan adanya kasus pengklaiman patung Mama Wulu oleh Australia ini. Jhohannes Marbun adalah salah satunya yang membentuk Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA)dan melakukan penelitian serta ekspedisi lebih lanjut mengenai kasus berpindah tangannya patung Mama Wulu ke Gallery of Australia (NGA) Canbbera Australia ini.

 
Support : Mas Template
Copyright © 2011. Warta Satu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger