Barometer Warta Indonesia

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kolaborasi Budaya Tari Tradisional Indonesia dan Tari Lintas Budaya

Written By Hidup dengan NILAI lebih on Minggu, 14 Desember 2014 | 16.58

Didik Nini Thowok  (www.vemale.com)


Indonesia yang kaya akan budaya, menjadi salah satu objek menarik yang bisa dikembangkan dalam kebudayaan tersebut.  Salah satunya adalah seni tari, bisa dikembangkan menjadi berbagai macam bentuk model. Pola lantai dan pola gerakan yang berbeda-beda di setiap tarian bisa menjadi suatu kombinasi yang indah bila dipadupadankan dengan tarian yang lain secara harmonis dan serasi.
Tentunya dalam memadupadankan suatu tarian dengan tarian lain, membutuhkan skill dan pengalaman khusus yang tidak bisa digarap dengan sembarangan. Khususnya tari tradisional Indonesia, bila dipadupadankan dengan tarian lain dari negara lain, membutuhkan proses panjang dan teknik penggarapan yang sesuai. Salah seorang penggiat dan penggarap tari kolaborasi, Agung Irawan mengungkapkan, “Setiap budaya bangsa memiliki karakteristik dan identitas sendiri, yang terkadang perbedaannya sangat mencolok. Maka ketika ingin membuat kolaborasi tarian, harus sangat hati-hati dalam komposisi, proporsi, dan kombinasi di dalamnya”, katanya.
Tari kolaborasi yang memang cenderung lebih susah digarap, namun nampaknya memiliki nilai antusiasme yang tinggi di hati pecinta budaya. Banyak penari-penari muda yang bermunculan, dan mereka sangat enjoy dalam membawakan dan mengembangkan tarian kolaborasi. Di tengah-tengah mulai lesunya budaya bangsa, dan pengalaman berharga akan pentingnya pelestarian budaya bangsa, pemuda-pemudi bangsa Indonesia mulai berpikir inovatif untuk mengembangkan dan melestarikan budaya bangsa agar tetap dicintai oleh bangsanya, salah satunya dengan cara mengkombinasikan dengan tarian tradisi bangsa dengan tarian bangsa lain, yang tentunya tidak meninggalkan pakem-pakem yang sudah ada. Agung Irawan sebagai penggiat tari tradisi dan kolaborasi yang masih menyandang status sebagai mahasiswa aktif Sosiologi FISIP UNS kembali berkomentar, “Saya rasa pemuda Indonesia sekarang memang sedang gencar melestarikan budaya, ya salah satu caranya ya dengan melalui penggarapan tari kolaborasi ini”, katanya.
Satu hal yang menjadi daya tarik lagi untuk tari jenis kolaborasi ini adalah, semua jenis tari pada dasarnya bisa dikolaborasikan. Hanya saja, butuh kehati-hatian karena tidak semua gerakan dalam tarian akan menjadi sesuatu yang indah jika dikombinasikan. “ya contohnya saja kalau tarian tradisi Jawa yang cenderung lemah lembut dikombinasikan dengan tarian Arab. Itu sudah jelas sangat berbeda. Tapi itu tetap bisa dikolaborasikan menjadi satu rangkaian tarian jika konsep yang dibangun sudah jelas di awal”, katanya.
Memang diperlukan konsep yang jelas dalam mementuk tari kolaborasi. Salah satu tari kolaborasi yang dinilai memiliki konsep yang jelas menurut Agung Irawan adalah tari kolaborasi yang pernah ditampilkan dalam acara Colaboration of Art ke 34 yang diselenggarakan di UNS dimana konsep yang diusung adalah konsep pewayangan yang mengangkat tokoh Prabu Del Beduwel, di sana tarian kolaborasi disajikan melalui kisah Prabu Del Beduwel yang telah berhasil menjadi raja, dan dengan keinginannya untuk menguasai negara lain, maka ia membuat taktik dengan cara mengundang tamu-tamu dari Turki, India, Jepang, Vietnam dengan modus pertukaran budaya, dan memamerkan tarian mereka masing-masing. “ya contohnya itu tadi, tari kolaborasi yang dibawakan melalui kisah Prabu Del Beduwel dalam Colaboration of Art ke 34, kan konsepnya jelas, berawal dari kisah yang memang tamu yang diundang oleh sang Prabu, karena konsep yang jelas sangat dibutuhkan. Apalagi dalam penampilan itu yang diusung adalah tari-tarian yang sangat berbeda-beda karakteristiknya”, tambahnya.


Link related : http://putripetry.blog.uns.ac.id/collaboration-of-art.php/

Menumbuhkan Kembali Cinta Budaya Nusantara Melalui Kolaborasi

Kolaborasi Korea-Indonesia

Jiwa cinta budaya pada generasi muda kita juga  mulai terkikis seiring merebaknya kebudayaan asing yang masuk kedalam negeri kita dengan teknologi sebagai medium. Sebagai contoh demam “K-Pop” dan virus “weternisasi”. K-Pop sendiri mulai menjamur di Indonesia sejak sekitra tahun 2009 hampir di segala bidang kebudayaan dan kesenian.
Hampir setiap hari generasi muda kita , secara rutin mengkonsumsi segala hal yang berhubungan dengan genre seni budaya asal Korea Selatan tersebut, mulai dari musik atau lagu, cara berpakaian, bahkan gaya bahasa. Hal tersebut merebak tidak lama setelah penetapan 2 Oktober 2009 sebagai hari batik nasional dan warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Generasi muda Indonesia sepatutnya bangga pada warisan budaya nusantara. Tidak hanya dalam bidang fashion, keris dan wayang juga telah menjadi salah satu warisan budaya dunia yang telah diakui. “Saat ini sudah ada tiga warisan budaya khas Indonesia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia yakni batik, keris, dan wayang”, seperti tertulis dalam laman setkab.go.id yang merupakan situs resmi Sekretariat Kabinet, Selasa (2/10/2012).[1]


Ironisnya ketika budaya nusantara mulai diakui dunia, generasi muda yang menjadi ujung tombak bagi kelestariannya justru lebih memilih budaya luar. Anggapan bahwa budaya terkesan kuno, seperti orang tua, tidak uptodate, dan sebagainya menjadi alasan anak muda enggan memakainya. “Secara umum, anak zaman sekarang sukanya yang praktis. Misalnya kalau tari tradisional itu ribet dari segi pakaiannya, musiknya, dan gerakannya. Makanya perlu ada terobosan baru, misalnya tari tradisonal menggunakan yang sedikit modern”, ungkap Diana salah satu mahasiswi UNY asal Kebumen saat dihubungi lewat media social pada Minggu (26/10).
Menciptakan terobosan baru melalui kolaborasi budaya menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan jiwa cinta budaya pada generasi muda. Kolaborasi yang memiliki arti kerjasama, dipadukan dengan arti budaya yang merupakan adat istiadat serta kesenian seperti yang tertuang dalam KBBI akan mampu memberikan makna budaya baru yang kekinian.
“Kami memang ingin membuat terobosan untuk menarik perhatian masyarakat melalui kolaborasi kidung, tari dan lukis dari 25 negara,” kata Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar Dr. Ketut Sumadi, M.Par di Denpasar, Sabtu (25/1).[1]
Fenomena tersebut mendorong Lauren, aktivis mahasiswa asal UTS (University Technology of Sydney) yang bekerjasama dengan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara sangat antusias untuk memperkenalkan batik pada generasi muda. Louren bersama teman-teman satu timnya membuat project yang dinamakan AMBATIK, yakni kaos yang menggunakan motifa batik modern. “Sebelumnya kami melakukan research terlebih dahulu terhadap mahasiswa kenapa mereka tidak mau pakai batik, alasannya kuno, harganya mahal, maka kami membuat sesuatu yang menarik mereka untuk mau memakai batik,” ungkap Lauren.[2]
Senada dengan Lauren dan timnya, para seniman seman wayang menjadikan melalui pertunjukan Kolaborasi Seni Pertunjukan Wayang Tradisional ASEAN-Tiongkok di TBJT Solo (17/9/204) sebagai langkah untuk menghidupkan wayang pada jiwa generasi muda khususnya. Ki Manteb Sudarsono, salah satu dalang wayang kulit kondang memaparkan bahwa adanya kemungkinan munculnya wayang kontemporer dimana ceritanya bisa dikembangkan berjiwa muda.
”Tidak perlu berputar-putar dan berdebat mengenai keharusan mempertahankan tradisi dan identitas yang dulu. Atau haruskah kita mencari identitas baru. Pengembangan itu strategi untuk membuat generasi muda mau mempelajari wayang dan bergerak maju,” ungkap Ki Mantep yang dilangsir dalam kompas.com.[3]
Seniman musik asal kota Solo yang tergabung dalam Solo Beatbox Community (SBC) juga menunjukan antusiasnya dalam menumbuhkan rasa cinta budaya pada generasi muda. Menciptakan musik kreatif yang mengandalkan bunyi yang dihasilkan alat ucap ketika performance, namun mereka juga berkolaborasi dengan beberapa aliran seni musik, seperti keroncong, melayu, seriosa, dan beberapa jenis musik lainnya mampu mendapatkan perhatian dari generasi muda.
Pemerintah di berbagai daerah juga mengadakan event bahkan kebijakan di pemerintahan yang bertujuan untuk melestarikan budaya. Pemerintah Kabupaten Tegal misalnya, akan menggelar Festival  Dalang Dulongmas dengan tema “Dalang Muda Menantang Jaman” pada 10 – 14 November mendatang.[4] Event seperti itu tentulah sangat bagus untuk melestarikan kebudayaan mengingat anak muda zaman sekarang cenderung tidak tertarik dengan keahlian dalang. Dengan diadakannya event tersebut, berarti pemerintah telah berpartisipasi dalam menciptakan kembali tradisi berpikir anak muda yang cerdas, kreatif, dan innovativ dalam hal melestarikan warisan budaya.
Begitu juga dengan Kota Solo, Pemerintah Kota Solo juga memberikan kebijakan yang mengharuskan seluruh Pegawai Negeri Sipil untuk memakai pakaian tradisional setiap hari Kamis. Memang pada awalnya aturan ini banyak menimbulkan pro dan kontra karena pegawai merasa bekerja dengan memakai pakaian tradisional tentulah ribet. Namun seiring berjalannya waktu seluruh elemen masyarakat ikut bergerak dengan ikhlas mendukung program pemerintah yang bertujuan positif ini. Nofik Lukman Hakim seorang PNS di kota Solo yang dihubungi lewat social messenger pada Minggu (26/10) berkata bahwa “Menurut saya kebijakan dari pemerintah kota Solo ini dapat memperbaiki citra kota Solo yang katanya mulai kehilangan jati dirinya sebagai kota berbudaya. Namun selain untuk mempertahankan kebudayaan dengan baik, kebijakan ini juga membuat Kota Solo menjadi kota pertama yang berani menerapkan tentang pemakaian baju tradisional dan menjadi kelebihan tersendiri bagi kota Solo untuk mempertahankan eksistensinya sebagai “The Spirit of Java” Hal ini tentunya tak lepas dari upaya pemerintah untuk tetap menjaga warisan budaya asli Indonesia.
Tak hanya pemerintah, pihak swasta seperti PT Djarum Tbk. juga ikut berpartisipasi dalam hal mendukung semangat kreatif masyarakat untuk meningkatkan apresiasi terhadap hasil budaya Indonesia. Sejak tahun1992, melalui program Djarum Apresiasi Budaya PT Djarum telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti Bengkel Teater Rendra, Teater Koma, Putu Wijaya Butet Kertaredjasa dll. Selain itu masih banyak budayawan, seniman, maupun kelompok kesenian yang telah menjalin kerjasama dalam mengaktualisasikan gagasan kreatifnya. Apresiasi yang telah dilakukan antara lain menyelenggarakan Pesona Batik Kudus untuk melestarikan batik Kudus dan membantu meningkatkan industry batik Kudus yang hampir punah.[5]
Sudah seharusnya seluruh elemen masyarakat berpartisipasi mendukung pelestarian hasil budaya Indonesia. Berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak tentunya mempunyai harapan agar nantinya ruang-ruang ekspresi dan apresiasi budaya lebih terbuka, dan komunikasi antar kultur budaya dapat terjalin lebih erat lagi.
Melalui kolaborasi-kolaborasi budaya diharapkan generasi muda bangsa ini juga tak kehilangan arah dalam memahami dan mencintai budaya asli Indonesia sehingga semangat persatuan, kesatuan serta cita-cita kebangsaan bersemi kembali dibenak gerasi penerus bangsa  melalui ragam budayanya.  
Apakah harus menunggu Negara lain mengklaim budaya Indonesia terlebih dahulu baru kita merebutnya kembali? Pertanyaan ini mungkin dapat dijadkan sebuah renungan dalam diri kita masing-masing agar kita tetap terus mencintai dan melestarikan budaya kita. Salam Budaya!


[1]http://news.detik.com/read/2012/10/02/070858/2051179/10/ayo-pakai-batik-di-hari-batik-nasional
[1] http://posbali.com/pementasan-unik-ihdn-denpasar-2/
[2]http://www.umn.ac.id/home/viewarticle/Mahasiswa_UMN_dan_UTS_Kolaborasi_Hasilkan_Ragam_Karya_Batik
[3]http://travel.kompas.com/read/2014/09/24/143500427/Ketika.Bima.Berkolaborasi.dengan.Naga
[4] http://berita.suaramerdeka.com/pemkab-tegal-akan-gelar-festival-dalang-dulongmas-2014/
[5] http://www.djarumfoundation.org/program_details.php?page=budaya


Priska Enggar Kinanthi
Rizky Riana
Tika Septiana

Budaya kita yang (dianggap ) kuno.

http://kesetiakawanan.com/

Perkembangan teknologi sering dikambinghitamkan sebagai salah satu penyebab lunturnya kebudayaan yang sudah tertanam dalam masyarakat, walaupun sebenarnya teknologi juga mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik[1]  Melalui pemanfaatan teknologi yang kurang cermat, para generasi muda cenderung belajar budaya-budaya yang menurut mereka lebih up to date  ketimbang budaya warisan nenek moyang.
Seperti yang dialami oleh Aditya Roosvianto warga Bangkalan Madura. Aditya menuturkan bahwa anak-anak muda dilingkungannya jarang yang dapat berbahasa Madura yang enggi bunten (bahasa halus yang diperuntukkan bagi orang yang lebih tua) karena cenderung meniru apa yang ada ditelevisi yang diaggap lebih gaul dari bahasa daerah.[2]
Selain itu, Finalis Abang-None 2014 dari Kepulauan Seribu, Mohammad Eko Prasetya juga berpendapat bahwa lunturnya kecintaan anak muda disebabkan oleh masuknya arus budaya barat dan anggapan bahwa budaya seperti wayang kulit hanyalah tontonan bagi orangtua.[3]
Kemudian diwawancarai via chat facebook pada Minggu (26/10) Mikha Kawangmani menyatakan bahwa ia lebih memilih suartu acara yang simple dari pada berbau adat arena  dinilai dari segi efisiensi biaya yang lebih mahal jika memakai prosesi adat yang terkesan lebih panjang dan membutuhkan banyak kelengkapan.
Untuk sementara,melalui kedua pendapat tersebut ada indikasi bahwa kebudayaan yang memang sudah puluhan bahkan ratusan tahun ada dalam masyarakat mulai termarjinalkan karena eksistensinya yang menurun lantra dianggap tidak up to date dan tidak efisien oleh sebagian genersi muda sekarang ini.



[1] http://news.okezone.com/read/2014/10/25/65/1056896/budaya-dan-teknologi-itu-ibarat-bayi-kembar
[2] http://news.okezone.com/read/2014/10/25/340/1056794/tokoh-budaya-madura-luntur-karena-pemerintah-abai
[3] http://lifestyle.okezone.com/read/2014/10/21/406/1055180/pesta-rakyat-hidupkan-budaya-indonesia


Priska Enggar Kinanthi
Rizky Riana
Tika Septiana

Kolaborasi Budaya, Perjalanan Cinta Lama yang Bersemi Kembali

Repertoir gerak teatrikal kolaborasi seniman Jepang dan Jogja 

Apa yang ada dalam benak kita saat kita mendengar kata “budaya”? Baju adat? Tarian-tarian seperti tari Saman, Reog,? upacara adat, lagu-lagu daerah, atau sesuatu yang terkesan kuno dan antik?  Atau benar-benar tidak memiliki bayangan dan kemudian mengetikkan keyword “budaya” pada kotak  search engine  seperti Google, Yahoo, atau semacamnya sambil mengingat-ingat kembali materi saat duduk di bangku sekolah untuk merangsang otak kita dalam menemukan  jawabannya.
Pengertian mengenai budaya yang diajarkan ketika di bangku sekolah yang paling umum adalah menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[1]. Akhirnya sarana tersebut direalisasikan oleh masyarakat itu sendiri dalam berbagai bentuk yang telah kita ketahui hingga saat ini seperti bahasa, tempat tinggal, pakaian, berbagai macam kesenian, upacara-upacara adat . Ringkasnya seperti pendapat seorang ahli sosiologi bernama J.J. Hoenigman yang membedakan wujud kebudayaan menjadi 3 bagian yaitu gagasan (ide), tindakan, dan artefak (karya dalam bentuk fisik)[2]
Masih belum hilang diingatan kita ketika mulai sekitar sekitar tahun 2007[3] kekayaan budaya Indonesia mulai di klaim oleh Negara tetangga mulai dari kesenian Reog Ponorogo, Lagu daerah Ambon Rasa Sayange, tari pendet, batik, alat music Tor-tor Sumatera utara hingga naskah-naskah kuno beberapa daerah diIndonesia. Dilansir melalui situs http://budaya-indonesia.org setidaknya terdapat 32 daftar artefak budaya Indonesia yang di klaim bangsa lain
Mengapa klaim budaya asli milik Indonesia bisa terjadi? Salah siapa sebenarnya? Pemerintahkah? Negara pengklaim kah? Atau masyarakat sebagai pemilik budaya? Tampaknya focus perdebatan mengenai hal tersebut dapat sedikit dialihkan kepada hal lain yang lebih memiliki nilai positif  seperti mencerna penyebab-penyebab hal tersebut dapat terjadi.




[1] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23921/4/Chapter%20I.pdf
[2] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19646/3/Chapter%20II.pdf
[3] http://www.tempo.co/read/news/2012/06/20/173411849/Tujuh-Klaim-Budaya-oleh-Malaysia-Sejak-2007


Priska Enggar Kinanthi
Rizky Riana
Tika Septiana

Batik Jadi Lifestyle Dunia

Outlet Batik Kembar Yogyakarta di Jalan Jl. Alamanda no. 14 Gejayan

Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang semakin melejit namanya di kancah internasional. Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Intagible Cultural Heritage of Humanity menjadikan batik sebagai “Fashion Icon of Indonesia”. Imbas positif dari pengakuan UNESCO tersebut, seperti yang dikatakan oleh Menteri Perindustrian, Kabinet Indonesia Bersatu II, MS Hidayat, pada peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2014 silam, bahwa pengusaha batik memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sumbangan dari industri batik ini berupa peningkatan devisa serta pendapatan bagi daerah, pengusaha industri, perajin, dan pedagang.
Salah satu sosok pengusaha Batik tersebut adalah Aulia Arifatu. Di sela kesibukannya sebagai asisten dosen dan asisten surveyor Fakultas Ekonomi International Program Universitas Islam Indonesia, Aulia tengah mengembangkan usaha Batik modern yang diberi nama Batik Kembar. “Nama batik kembar ini diambil dari adik saya yang kembar. Adik terakhir saya adalah kembar, mereka bernama Fatah dan Fatih. Sebagai rasa syukur atas karunia Allah karena keluarga kami di anugrahi anak kembar, maka usaha ini diberi nama “Batik Kembar, “ ungkap perempuan asal Kota Batik ini.
Pilihannya jatuh kepada usaha Batik modern didukung optimisme perkembangan batik Dorongan berbagai pihak seperti program program pemerintah, seniman, dan masyarakat itu sendiri juga menjadi aksi nyata semangat pelestarian budaya Bangsa. Aulia memandang dengan diiberlakukanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada awal tahun 2015 nanti menjadikan batik sebagai peluang yang baik dalam memajukan perokonomian Indonesia di bidang Industri kreatif.
“Jadi, saya memilih usaha batik modern ini karena saya ingin membawa batik sebagai fashion heritage tidak hanya di Indonesia, tapi juga fashion heritage untuk dunia, “ungkapnya.
Pengakuan Batik secara internasional memunculkan tantangan baru untuk para pelaku usaha Batik. Mereka dituntut untuk membuat warisan budaya tersebut mampu beradaptasi dengan trend fashion dunia. Batik bukan lagi kain bermotif yang dipakai pada acara resmi, tetapi lebih dari itu Batik menjadi busana yang dapat dikrasikan untuk pelbagai suasana dan usia. Assosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta selalu mengeluarkan trend fashion forecast terbaru yang juga menjadi panutan bagi rancangan Batik Kembar.
Tidak hanya dari sisi produk, Aulia juga menggeluti bidang muslimah modelling yang dianggap relevan untuk pemasaran produknya. Selain itu dia juga seorang freelance muslimah model, fashion dan hijab stylist. Totalitas yang Aulia bangun tidak sia – sia, terbukti Batik Kembar kerap menjadi sponsor beberapa acara seperti Pemilihan Putra Putri Batik dan show di panggung Jogja Fashion Week 2014.

Sebagai seorang pengusaha muda, Aulia berpesan kepada para pemuda untuk bangga terhadap produk-produk Indonesia, guna menghapus image konsumen Indonesia yang terkenal dengan karakter “foreign brand liker”-nya.

Ulfa Arieza

Seniman Gila! Tampil 5 Menit Tapi Dikenang

Seni Musik Kontemporer

Budaya kontemporer atau lebih tepatnya seni kontemporer hadir di tengah kesibukan masyarakat yang kian padat. Sebagai contoh jaman sekarang sudah jarang orang yang mau menikmati kesenian murni tradisional. Ketika masyarakat ibukota seperti daerah di Jakarta mulai mengadopsi budaya barat, mengedepankan life style dan mengesampingkan kesenian tradisionalkesenian tradisionalpun jarang ada peminatnya kecuali ada tokoh-tokoh yang mau melestarikan kesenian tradisionalnya. Hal tersebut dikarenakan mindset yang berbeda dengan seniman dan penikmat seni. Ketika masyarakat ibu kota memiliki tujuan mencari uang, maka tidak akan bisa disatukan dengan tujuan seorang seniman dan penikmat seni yang murni akan kepuasan batin. Dengan inilah budaya dan kesenian kontemporer lahir untuk mengingatkan masyarakat bahwa mereka masih memiliki kesenian yang bisa mengikuti perkembangan jaman seiring dengan kebutuhan hidup orang masa kini.
Ketika kita membahas musik kontemporer, maka kita akan teringat akan nama yang tak asing lagi di telinga seperti Djadug Fahriyanto, Soimah bahkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Namun kita akan keluar dari tokoh-tokoh seni termashyur itu dan akan menyoroti salah seorang seniman kontemporer yang kini sedang mengembangkan seni musik kontemporer di Tarakan, Kalimantan. Wanita yang berprofesi sebagai guru di SMK N  Tarakan ini kerap di sapa Bu Enok Guru Seni yang Gila. Sapaan tersebut bukanlah sapaan ejekan yang menyakitkan, namun menurutnya sapaan tersebut adalah pengahargaan yang diberikan untuknya dari orang-orang yang kagum dengan karya seninya. “Loh kalau karya saya ngga gila ngga ada yang mau nonton!” katanya tegas dan lantang bahkan speaker handphone yang sedikit eror pun tak bisa menghalangi kata-katanya yang menegaskan bahwa karya seni itu harus gila, kalau tidak gila orang tidak mau menontonnya.
Tidak mudah mengenalkan seni kontemporer khususnya musik kontemporer yang tergolong baru ini pada khalayak. Bahkan beberapa seniman daerahpun sulit menerima datangnya musik kontemporer. Swara Etnika Perkusi contohnya, grup perkusi siswa SMK 3 Tarakan ini bentukan Bu Enok yang menggabungkan anatara alat musik jawa yaitu saron dan alat musik khas Indonesia timur yaitu jimbe atau tifa ditambah alat musik modern lainnya simbal drum, awalnya dipandang sebelah mata karena menurut orang-orang hal tersebut tidak mungkin dan aneh. “Tapi ya pelan-pelan saya buktikan, ternyata hanya dengan saron, jimbe dan simbal drum saja di Tarakan sudah Heboh” ceritanya. Menurut Bu Enok namaya berkesenian, ingin menapilkan inovasi baru namun tetap tidak menghilangkan pakem dari seni tersebut. Karena jaman sekarangpun sulit menemukan orang yang benar-benar penikmat seni pure seni tradisional. Jadi memang harus berinovasi dengan mengkolaborasikan seni khususnya seni musik dengan cara menggabungkan unsur dari beberapa kesenian daerah atau modern.
Sedangkan konsep musik kontemporer bukanlah musik yang harus kita dengarkan berjam-jam dan terkadang cenderung mengarah ke dalam kebosanan, namun musik yang hanya ditampilkan 5 menit saja namun dikenang. Walau malam semakin larut, namun Bu Enok seorang seniman gila ini masih semangat bercerita akan indahnya dan nikmatnya mencipta musik kontemporer melalui facebook call. “Jangan sampai berpikiran kalau berkesenian sama saya, harus menang tapi cobalah berpikir kita harus beda dan slalu diingat. Karen bisa memberikan suatu yang baru dan selalu diingat, org akan lebih senang ketika kamu tampil 5 menit tapi orang itu akan mengenang selamanya dari pada kamu tampil berjam-jam tapi orang akan bosen. Karena berkesenian itu kepuasan batin dan seni itu aneh, kalaungga aneh ngga mau ditonton”.

Phulia Negara

Jejak Sang Penenun di Tanah Flores



Larantuka adalah Ibu Kota Kabupaten Flores Timur yang berada di belahan terjauh bagian timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dikutip dari website resmi Wonderful Indonesia Larantuka sejatinya memiliki peran penting dalam penamaan pulau yang menggenggamnya, yaitu Flores. Nama Pulau Flores diperkirakan berawal dari tempat ini. Dahulu Larantuka disebut sebagai Tanjung Bunga (Cape of Flower). Dalam bahasa Portugis, Tanjung Bunga diucapkan sebagai Cabo da Flora atau Cabo da Flores. Dari nama itu, pulau tersebut secara keseluruhan hingga kini disebut Flores.
Tanah Flores menyimpan banyak warisan asli Indonesia, salah satunya adalah tenun khas Flores. Dilansir dari berita perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) tenun flores tlelah menjadi ciri khas budaya Indonesia, hingga menarik minat KBRI  Brasilia  untuk mengundang  Alfonsa  Horeng  guna mempromosikan  tenun  ikat  Flores  di hadapan  khalayak  masyarakat  setempat  dan   korps  diplomatik  di  Brasilia (Berita Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia  melalui http://www.kemlu.go.id.
Kerajinan tenun tersebut tercermin pada salah satu patung Tanah Larantuka yang melegenda yaitu patung Mama Wulu. Ulasan dari sumber  Detik.com menegaskan bahwa berdasarkan publikasi dari Ruth Barnes dari Asmolean Museum, Oxford, London yang diterbitkan di Oxford Asian Textile Group Newsletter No 37 Juni 2007, diperkirakan patung perunggu ini dibuat antara tahun 556-596 AD. Patung mungil ini dinilai sangat unik karena menggambarkan sejarah perkembangan teknik menenun. Tergambar secara rinci baris dan lajur benang tenun dan juga motif tenun khas Flores pada alat tenun yang ada dipangkuannya. Disamping itu, kombinasi tahun pembuatan dan juga bahan pembuatan patung ini membuat Sang Penenun semakin unik dan berharga sehingga pada tahun 2006 dinobatkan sebagai “Master Piece of the 6th Century of Indonesia Sculpture” oleh National Gallery of Australia.
Mama Wulu atau Sang penenun adalah patung perunggu yang menunjukan fakta bahwa teknik tenun sudah menjadi budaya leluhur tanah Flores. Dilansir dari Detik.com. Alat tenun sederhana yang digunakan Sang Penenun masih dapat kita jumpai di daerah terpencil di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan analisa pakar dari National Gallery of Australia tampaknya pembuat patung ini sangat mengetahui teknik menenun, sehingga alat tenun yang ada dipangkuan Sang Penenun dibuat demikian akuratnya. Fakta ini menunjukkan bahwa teknik menenun yang ada di Flores sudah ada sejak jaman perunggu. Berdasarkan detail postur tubuh patung tersebut, diduga pembuat patung ini adalah seorang laki-laki.
Namun, menurut berita yang dilansir dari Kompas.com (25/9). Australia  patung ini telah hilang seraca misterius pada tahun 1977. Hingga tidak diketahui perjalanannya, patung tersebut dapat sampai ketangan seorang kolektor benda antik asal Swiss.  Hingga kini, Sang Penenun dari Tanah Flores tersebut masih berada di National Gallery of Australia

Kurang Aman, Artefak Kuno Ini Juga Hilang dari Museum Nasional!

Written By Unknown on Senin, 08 Desember 2014 | 14.34

Sumber:  Foto Artefak Museum Gajah yang Digondol Maling. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/443963-foto-dan-spesifikasi-artefak-museum-gajah-yang-digondol-maling


Selain Mama Wulu dari  Larantuka, Flores, ada beberapa artefak bersejarah Indonesia yang hilang, empat diantaranya hilang dari Museum Nasional atau museum Gajah di Jakarta. Artefak-artefak yang hilang dicuri tersebut adalah  peninggalan-peninggalan milik Mataram Kuno dari abad 10 Masehi. Seperti yang di lansir dari Tempo.co (12/9/2013) Artefak-artefak terseut antara lain:
(1) Lempeng Naga Mendekam Berinskipsi berbentuk naga bermahkota dalam posisi melingkar, Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur. Panjangnya 5,6 sentimeter dengan lebar 5 sentimeter.
(2) Lempeng Bulan Sabit Beraksara, bentuknya seperti bulan sabit dan deretan segitiga seperti cakar. Panjangnya 8 sentimeter dengan lebar 5,5 sentimeter.  
(3) Wasah bertutup (cepuk), benda ini berbentuk seperti dandang tertutup tanpa pegangan dan tutupnya berbentuk bundar Diameternya 6,5 sentimeter dengan tinggi 6,5 sentimeter;
(4) Lempeng Harihara, artefak ini berbentuk lembaran melukiskan arca Harihara yang berdiri di atas bantalan teratai ganda. Dengan panjang 10,5 sentimeter dan lebar 5,5 sentimeter, lempengan ini dibuat dari campuran perak dan emas.
Lembaran lempeng-lempeng tersebut mengandung mantra-mantra dewa dan hanya terdapat di Indonesia dan India.
Indonesia sangat kaya akan peninggalan bersejarah, karenanya Indonesia menjadi lumbung para kolektor barang antik dari berbagai negara. Bukan tidak mungkin jika beberapa artefak yang hilang adalah pesanan para kolektor dari luar negeri. Karena jika penadah artefak curian adalah orang Indonesia pastilah dapat dilacak karena benda bersejarah tersebut sudah ditandai dengan nomor inventaris benda antik yang dilindungi oleh Negara
Menurut Kombes Rikwanto, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya yang dilansir oleh Viva news (18/12/2013), "Mungkin pedagang akan takut karena barang yang akan dijual itu adalah barang yang dilindungi negara. Kemungkinan terbesar, penyalur dan penampungnya adalah kolektor barang antik,"
Indonesia menjadi incaran yang mulus bagi para kolektor karena sistem pengamanan di museum - museum bersejarah Indonesia terhitung longgar dan tidak ada sistem pengamanan khusus. Hanya mengandalkan kamera CCTV dan penjagaan dari pegawai penjaga museum. Jika kamera CCTV rusak atau pegawai lalai, sungguh ini menjadi sasaran empuk bagi pihak yang mempunyai niat untuk mencurinya.
Menurut Kombes Rikwanto yang kali ini dilansir oleh suara pembaruan(dot)com (2/10/2013) "Dari sisi kelalaian jelas ada karena alarm dan kamera CCTV saat itu tidak berfungsi. Namun juga ada niat dari seseorang untuk mencuri koleksi tersebut," ujarnya. Rikwanto juga mengatakan pihaknya akan terus menyelidiki pencurian artefak Museum Nasional hingga ditemukan titik terang. Sebab, kejadian itu bukan hanya terkait dengan kerugian museum saja, tetapi juga kerugian budaya Indonesia.
Dari kasus-kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain dari peralatan pengamanan seperti CCTV, alarm, dan lan sebagainya, petugas keamanan yang profesiaonal seperti dari kepolisian juga harus ditempatkan di tempat-tempat penyimpanan artefak-artefak tersebut untuk memperketat keamanan.Sudah seharusnya peninggalan bersejarah dilindungi oleh Negara. Karena benda bersejarah adalah jati diri bangsa.
 Menurut Remy Riverino, seorang pemerhati budaya  dalam tulisannya di forum kompasiana (dot) com, “Saya setuju dengan gagasan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa benda-benda bersejarah yang ada di museum agar dapat diduplikasi sehingga yang dipamerkan adalah duplikatnya. Sedangkan yang aslinya disimpan ditempat yang aman dari pencurian, kebakaaran dan bencana alam. Hal ini untuk mencegah terjadi apa-apa atau hal-hal yang tidak diinginkan.”

Masyarakat Advokasi Warisan Budaya: “Raja Masih Bungkam”


Melestarikan warisan budaya dalam volunteerism adalah semangat yang selalu diusung oleh Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA). MADYA merupakan jejaring masyarakat yang memfokuskan diri pada usaha pelestarian warisan budaya. Organisasi ini berdiri sejak tahun 2008 di Kota Yogyakarta. Dalam beberapa kegiatan yang telah dilakukan, tujuannya hanya satu yaitu meningkatkan kesadaran pelestarian budaya.
Mereka menyatakan kesadaran mereka dalam bidang pelestarian budaya seperti yang tertulis dalam blog advokasiwarisanbudaya.blogspot.com. Tidak hanya budaya berbentuk kesenian, bidang budaya berbau alam dan lingkungan juga tak luput dari perhatian. Misalnya, cagar alam dan biodiversitas, serta sistem pertanian pun juga diapresiasi.
Dalam rangka Hari Purbakala Nasional, MADYA turut memeriahkan dengan sejumlah kegiatan. Diantaranya adalah merancang acara Happening Art  yang berisi diskusi mengenai “Carut Marut Pengelolaan Warisan Budaya” dan “Jual Beli Benda Cagar Budaya (BCB) di Kawasan Kotagede”. Kegiatan unik lain yang turut disuguhkan adalah pengenalan mengenai Underwater Archaeology  atau arkeologi bawah laut; yaitu tentang pengelolaan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT). Acara-acara tersebut dipaparkan melalui blognya yang lain, yaitu madyaindonesia.wordpress.com.
Salah satu pekerjaan rumah yang kini dihadapi oleh MADYA adalah berpindahnya patung perunggu Mama Wulu asli Larantuka ke National Gallery of Australia (NGA). Seperti dilansir oleh Kompas.com (25/9) patung tersebut telah hilang secara misterius pada tahun 1977, hingga akhirnya diketahui berada di tangan seorang kolektor benda antik asal Swiss yang kemudian dibeli dengan harga empat kali lebih mahal dari harga pembelian awal oleh NGA.
Jhohannes Marbun selaku Koordinator MADYA mengaku mengetahui dari berita The Australian dengan judul $4m Mistery: How Did NGA End Up with Treasured Indonesian Relic? pada tanggal 18 September 2014 seperti yang dikatakannya dalam RMOLSumsel.com (26/9/2014).
Saat melakukan ekspedisi ke Larantuka untuk penelurusan kasus pada Bulan September 2014 lalu,  ia mengatakan bahwa “Raja Larantuka dan penghubungnya masih belum mau memberikan penjelasan”, kata Jhohannes saat dihubungi melalui akun facebook-nya (30/10). Raja Larantuka dan penghubungnya masih bungkam terkait hilangnya Mama Wulu.

Menurut Jhohannes, “Apabila asal-usulnya tidak terlalu jelas, seharusnya NGA memberitahu koleganya di Galeri atau Museum Nasional Indonesia untuk dimintai informasi”, seperti yang dilansir dari JPNN.com (26/9).

Penenun Wanita Asli Flores, Dimuseumkan di Australia!!!

Patung Mama Wulu di National Gallery of Australia
Sumber:  http://www.theaustralian.com.au/news/features/case-of-the-bronze-weaver/story-e6frg6z6-1227097765010
  

Mama Wulu, wanita kecil mungil yang nampak  sedang menenun sambil menyusui bayinya kini dimuseumkan di National Gallery of Australia (NGA) Canbbera Australia. Ia sebuah patung perunggu keramat dari Larantuka Selatan, Flores. Patung ini telah hilang seraca misterius pada tahun 1977, hingga akhirnya diketahui berada ditangan seorang kolektor benda antik asal Swiss seperti yang dilansir pada Kompas.com (25/9).
Melalui press release pada situs resminya, NGA mencatat bahwa patung berukuran panjang 25,8 centimeter (cm), lebar 22,8cm dan tinggi 15,2cm yang dibuat sekitar abad ke-6 sudah berada ada di NGA sejak 25 Agustus 2006.
Pada saat itu, pembelian patung perunggu asal Larantuka tersebut disaksikan secara langsung oleh direktur galeri Ron Radford dan kurator seni Asia, Robyn Maxwel, yang pensiun akhir september lalu. Para pengelola NGA setuju membayar senilai $4 juta empat kali lebih mahal atau senilai 49 milyar rupiah dari seorang kolektor benda antik berkebangsaan Swiss yang telah menyimpan Mama Wulu selama 30 tahun.
Seperti dilansir dari The Austtralian News (26/10/2006), pihak NGA setuju membeli patung tersebut karena Mama Wulu dinilai memiliki nilai estetika yang tinggi. Pada saat Ruppert Myer (Ketua NGA sekaligus Ketua Dewan Kesenian Australia 2006) pertama kali melihat Patung dari Flores itu sangat kagum dan ia berpendapat bahwa Mama Wulu sangat mencerminkan kebudayaan Asia Tenggara.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof Ronny Rachman Noor, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Australia, melalui detik.com (10/10) menegaskan bahwa berdasarkan publikasi dari Ruth Barnes dari Asmolean Museum, Oxford, UK yang diterbitkan di Oxford Asian Textile Group Newsletter No 37 Juni 2007, diperkirakan patung perunggu ini dibuat antara tahun 556-596 AD. Kombinasi tahun pembuatan dan juga bahan pembuatan patung ini membuat Sang Penenun semakin unik dan berharga sehingga pada tahun 2006 dinobatkan sebagai “ Master Piece of the 6th Century of Indonesia Sculpture” oleh National Gallery of Australia.
Sebenarnya, pemberitaan mengenai keberadaan Mama Wulu sudah menjadi bahan perbincangan hangat media tahun 2006 khususnya oleh media di Australia seperti The Australian dan The Sydney Morning Herald. Misalnya The Sydney Morning Herald menulis artikel berjudul  Gallery Unveils The $4 Million Woman (26 Oktober 2006), Tiny Bronze Commands A Giant Price (November 2006) yang membicarakan seputar asal usul, sisi kemenarikan, dan harga yang terbilang fantastis.
Sekitar bulan September, isu mengenai patung penenun ini kembali menghangat di pemberitaan media Australia. Jhohannes Marbun, koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) juga mengaku mengetahui seputar artefak tersebut dari pemberitaan media di Aussy, the Australian, dengan judul tulisan: $4m mystery: how did NGA end up with treasured Indonesian relic? pada tanggal 18 September 2014, seperti yang dilansir dalam situs berita online RMOLSumsel.com (26/9/2014).
Patung Perunggu itu terakhir kali diketahui berada di Indonesia, ketika salah seorang wanita dari Larantuka Selatan, daerah Flores Timur berfoto memegang benda tersebut pada tahun 1977. Hal tersebut dapat dilacak melalui melalui foto yang dipublikasikan oleh Paul Michael Taylor (sekarang direktur Program Smithsonian untuk Sejarah Kebudayaan Asia di Universitas Smithsonian, Amerika Serikat) dalam buku: Fragile traditions Indonesian Art in Jeopardy pada tahun 1996, sebagaimana diberitakan oleh the Australian News (22/10/2014).
Sejak dikabarkan hilang secara misterius dan kemudian muncul foto Mama Wulu bersama seorang wanita Flores pada tahun 1996, entah bagaimana caranya benda antik itu lalu diketahui berada di tangan seorang kolektor asal Swiss. Hingga akhirnya, sejak 2006 Mama Wulu tercatat telah berada di NGA.
Hilangnya artefak ini masih sulit untuk ditelusuri. Menurut Jhohanes Marbun saat melakukan ekspedisi ke Larantuka pada pertengan bulan lalu, pihak dari Raja Larantuka dan penghubungnya masih bungkam terkait penjelasan hilangnya Mama Wulu.
“Raja Larantuka dan penghubungnya masih belum mau memberikan penjelasan”, ungkap dia saat diwawancarai melalui akun facebook-nya (30/10).
Sedikit berbeda dengan pemaparan Bambang Budi Utomo Peneliti Utama dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengungkapkan bahwa sudah mendapat informasi tentang keberadaan artefak asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, dan tengah mencari literatur berupa buku dan artikel tentang Flores untuk mencari informasi lebih dalam.
"Memang pada 1983 ada rencana tim dari Puslit Arkenas untuk meneliti artefak itu ke Larantuka, tapi benda cagar budaya itu tidak ada lagi di sana," ungkapnya seperti yang dilansir Antara.news (29/9).
Berdasarkan hasil penelusuran Marbun secara online, hanya terdapat beberapa berita yang mengatakan bahwa artefak perunggu dari abad ke-6 masehi tersebut dijual. Dalam bukunya, Taylor juga tidak menyebutkan bahwa benda antik itu diambil secara ilegal dari Indonesia. Namun, ia menyatakan, fakta bahwa benda itu bernilai tinggi seharusnya membuat siapa pun berhati-hati akan adanya transaksi penjualan di baliknya.
Salah satu poin yang harus ditaati sesuai kode etik ICOM (International Council of Museum) yaitu sebelum melakukan proses akuisisi artefak harus dilakukan penelitian tentang asal usul artefak dan kepemilikannya (provenance research) sebagai dasar penetapan keaslian dan kepemilikan.
Hal ini sejalan dengan pendapat MADYA. "Apabila asal-usulnya tidak terlalu jelas, seharusnya GNA memberitahu koleganya di Galeri atau Museum Nasional Indonesia untuk dimintai informasi," jelasnya seperti yang dilansir JPNN.com (26/9).
Pemerintah harus lakukan perlindungan terhadap benda-benda antik yang yang dimiliki oleh Indonesia. Pasalnya sudah tidak sekali ini saja benda-benda artefak asli Indonesia diklaim oleh negara lain. Di sini, pemerintah  terutama bagi Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah, diharapkan mempertegas status kepemilikan warisan budaya atau artefak Indonesia oleh orang atau negara asing yang diduga diperoleh dengan tidak sah.
Seperti diberitakan dari situs Berita Sore, regulasi di bidang kebudayaan yang masih belum jelas seperti terkatung-katungnya pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Kebudayaan serta rancangan Peraturan Pemerintah sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang belum disahkan sampai dengan saat ini, yang tentu saja ini juga menjadi hambatan bagi Indonesia untuk tetap memiliki apa yang menjadi haknya.
Dilansir dari situs MetroTVnews.com, dikatakan oleh Junus Satrio Atmodjo sebagai  Ketua Ikatan Asosiasi Arkeolog Indonesia (IAAI), bahwa perlindungan bermuara dari informasi tentang keberadaan cagar budaya dan upaya pengamanan yang diterapkan untuk melindunginya. Belum semua objek cagar budaya diketahui keberadaannya. Setiap minggu ada saja penemuan-penemuan baru di seluruh Indonesia yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Kenyataan ini menyebabkan bertambahnya jumlah objek yang harus diawaasi. Di lain pihak juga semakin banyak yang hilang tanpa diketahui. Pasar terbesar cagar budaya adalah Bali, Surabaya dan Jakarta sebagai pintu masuk dari dan ke luar negeri. Namun tidak berarti bahwa kota-kota besar lain terbebas dari gejala ini.
Kembali lagi dilansir dari sumber Berita Sore dikatakan oleh Jhohannes Marbun bahwa salah satu faktor pendukung lainnya yang menyebabkan diklaimnya benda artefak asli Indonesia oleh negara lain ini adalah karena lemahnya respon penyelamatan (kedaruratan) dalam pelestarian kebudayaan khususnya kebudyaan atau benda-benda peninggalan yang terancam punah. Tentu saja jika berbicara tentang faktor ini, sangat erat hubungannya dengan respon dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian benda-benda peninggalan sejarah.
Mendengar fenomena pengklaiman patung Mama Wulu oleh Australia ini dikhawatirkan mampu membuat hubungan antara Indonesia-Australia kembali menegang, seperti dilansir dari situs TribunNews.com.
Hal inilah yang menjadi sorotan publik, kembali lagi Indoesia mengalami suatu masalah yang dihadapkan dengan Australia. Sehingga hal ini membuat masyarakat menjadi gerah dan berusaha untuk meneliti tentang keberadaan patung Mama Wulu yang masih dianggap kontroversial, pasalnya ada juga sumber yang mengatakan bahwa patung Mama wulu masih dimiliki oleh warga Larantuka. Bahkan Don Tinus de Diaz Viera Godinho sebagai kepala suku Larantuka pun mengatakan “ini sudah menjadi kesepakatan bahwa tidak akan memberikan kesempatan bagi siapapun untuk melihat patung itu”  yang dilansir dari situs The Australian News.
Keanehan semacam ini semaki membuat masyarakat bertanya-tanya dan menjadi peduli dengan adanya kasus pengklaiman patung Mama Wulu oleh Australia ini. Jhohannes Marbun adalah salah satunya yang membentuk Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA)dan melakukan penelitian serta ekspedisi lebih lanjut mengenai kasus berpindah tangannya patung Mama Wulu ke Gallery of Australia (NGA) Canbbera Australia ini.

 
Support : Mas Template
Copyright © 2011. Warta Satu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger